Hasil Survei Litbang Kompas: PDI P, Gerindra Melejit, Golkar dan Demokrat Merosot
Pemilu 2019 yang digelar serentak antara pemilu legislatif dan pemilihan presiden berpotensi menyederhanakan sistem kepartaian di Indonesia.
Partai Bulan Bintang (PBB) tahun 2014 memperoleh 1,5 persen suara, kini tinggal 0,4 persen.
PKPI pada 2014 memperoleh 0,9 persen suara, menjadi 0,2 persen.
Survei Litbang Kompas juga menunjukkan 18,2 persen pemilih belum menentukan akan memilih partai apa pada saat survei dilakukan.
Partai Baru
Partai baru yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI), eletakbilitas pada survei Maret 2019 ini diprediksi memperoleh 0,9 persen suara.
Selanjutnya Perindo memperoleh 1,5 persen suara.
Partai Berkarya memperoleh 0,5 persen suara.
Partai Garuda, memperoleh 0,2 persen suara.
Efek ekor jas
Kerumitan implementasi pemilu serentak ini, antara lain, dirasakan Partai Demokrat. Parpol ini merasa tidak mendapat efek ekor jas dari sosok capres-cawapres yang mereka usung, yakni Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Renanda Bachtar, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (20/3/2019), mengatakan, pihaknya bersama parpol pengusung lain harus bekerja ekstrakeras untuk mendapat kursi di parlemen.
Ini karena efek ekor jas hanya dirasakan parpol pengusung utama.
Oleh karena tidak bisa bergantung kepada sosok Prabowo dan Sandi semata, Demokrat, antara lain, juga mengampanyekan 14 program prioritas yang diharapkan bisa menjadi pembeda dari peserta pemilu lainnya.
Demokrat juga menjadikan figur caleg dan sosok Komandan Satuan Tugas Bersama (Kosgama) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai daya tarik.
”Kami gencarkan pendekatan ke kelompok milenial, khususnya lewat figur Mas AHY. Ia sudah berkeliling ke banyak daerah menyapa masyarakat,” tutur Renanda.