Editorial Tribun Manado

Hati Malaikat Jelang Pemilu

Orang-orang yang mendadak baik itu ada yang membagi-bagikan sembako, sponsor kegiatan, menyumbang tempat ibadah, pun menyumbang janji.

Hati Malaikat Jelang Pemilu
Tribun Manado
Baliho para caleg terpasang di ruas jalan Trans Manado-Bitung, Maumbi, Minahasa Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - PEMILU 2019 tak lama lagi, tinggal sebulan lebih. Dalam waktu yang semakin dekat jelang pemungutan suara 17 April ini, jangan heran bila semakin banyak orang yang berhati malaikat, bak Sinterklas, yang datang berbuat baik kepada warga, kecuali kepada anak-anak dan remaja yang tak memiliki hak suara.

Pemberian orang-orang yang mendadak baik itu macam-macam; ada yang membagi-bagikan sembako, sponsor kegiatan, menyumbang tempat ibadah, pun menyumbang janji bila nanti terpilih sebagai wakil rakyat.

Kita tak dapat menolak segala bentuk kebaikan mereka itu, meski kebaikan itu berpamrih atau mengharapkan sesuatu. Ada pepatah Latin, do ut des, yang berarti ‘Saya memberi agar dapat menerima’. Seperti itulah tindakan kebaikan mereka yang mendadak baik itu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak melarang mereka berbuat baik. Mereka hanya tidak diperbolehkan berbuat baik dengan embel-embel nomor urut dan janji. Maka, di sinilah persoalannya sehingga kita tidak dapat menggolongkan pemberian para calon itu sebagai money politics atau politik uang.

Syarat yang diberikan pada suatu tindakan politik uang bukan sekadar memberi. Pemberian itu harus ditempelkan perintah “Pilih saya” atau “Coblos nomor bla bla”. Bila tanpa perintah tersebut, amanlah pemberian itu, aman pula si pemberi dan si penerima.

Kualitas pemilu kita tidak terletak hanya pada seberapa besar partisipasi pemilih. Pasalnya, pemilih bisa dipaksa untuk memilih dengan kondisi-kondisi tertentu, seperti pemberian tadi. Pun jumlah pemilih bisa saja banyak dalam arti ada pengerahan besar-besaran massa yang sudah ‘disogok’ dengan pemberian atau janji. Dalam hal ini, mereka yang memilih untuk tidak memilih atau yang kita kenal sebagai golput (golongan putih) lebih rasional dibanding mereka yang datang memilih karena sudah termakan perintah sogokan.

Penting bagi kita, para calon pemilih, untuk mengenal betul siapa-siapa yang akan kita pilih, bukan dari pemberian mereka di saat-saat jelang pemungutan suara. Yakinlah, mereka itu bila nanti sudah terpilih akan segera melupakan janji mereka dan baru kembali berbuat baik jelang pemungutan suara pada pemilu berikutnya.

Kita membutuhkan orang-orang yang berkualitas, berintegritas, dan memiliki tekad membangun masyarakat dan negeri, bukan mereka yang begitu berambisi sampai-sampai melakukan segala cara demi meraih suara. Kita harus memilih mereka yang betul-betul memiliki rekam jejak terbaik, bukan mereka yang sudah terbukti korupsi tetapi mendadak baik dengan segala bentuk pemberiannya.

Sangat penting bagi kita sungguh-sungguh mempelajari dan menyadari siapa yang akan kita pilih karena semua kontestan pemilu akan sama-sama unjuk kekuatan. Bedanya, ada yang sudah sejak lama dan konsisten berbuat baik, ada yang baru saja menjadi orang baik.

Pemilu 2019 sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya: memilih yang terbaik. Kita akan memberi legitimasi kepada mereka yang kita yakini menjadi pemimpin. Memilih pemimpin yang gemar berbuat baik dan mendadak rajin sosialisasi jelang pemilu patut kita ragukan kemampuannya karena bila nanti terpilih, kebaikan mereka hanya tampak sebulan sebelum waktu pemilu, bukan sepanjang 5 tahun periode menjabatnya. Jangan sampai menyesal. (*)

TONTON JUGA:

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved