Renungan Minggu
Kerendahan Hati dan Ketaatan Membawa Kemenangan
Suatu persoalan bisa muncul karena adanya masalah komunikasi, di antaranya terjadi perbubahan karakter komunikasi.
Penulis: Chintya Rantung | Editor: Alexander Pattyranie
Renungan Minggu oleh:
Pdt Hesky Manus MTh
Pendeta di GMIM Wilayah Tondano IV
Pembacaan: Bilangan 14:39-45
SUATU persoalan bisa muncul karena adanya masalah komunikasi, di antaranya terjadi perbubahan karakter komunikasi.
Artinya, komunikasi memang ada tetapi bersifat saling menuduh dan mempersalahkan.
Dan hal ini menjadi tanda dari rusaknya suatu hubungan.
Kalau kita menelusuri lebih jauh asal-muasal kerusakan hubungan komunikasi antara Allah dengan bangsa Israel, letaknya pada ketidaksetiaan dan ketidakdengar-dengaran orang Israel sendiri.
Kesetiaan mereka diuji oleh pengalaman menderita.
Mereka akhirnya gagal lewat sungut-sungutan dan pemberontakan.
Dan alamat kesalahan lalu diarahkan kepada Musa, Harun dan Tuhan Allah.
Dalam Bilangan 14:2-4 diceritakan mereka bersungut-sungut dan berkata: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?" Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir."
Pengalaman pahit tidak membuat mereka makin sadar akan rencana agung Allah membawa ke tanah Perjanjian, malah makin mengeraskan hati.
Hari demi hari berlalu, namun mereka tidak belajar dari kesalahan.
Musa yang selalu tampil sebagai negosiator, kini mulai tampak kehabisan akal.
Sekali lagi ia meminta pengampunan atas sungut-sungut bangsanya.
Inilah yang diangkat dalam Bilangan 14:39-45. Tuhan Allah mengiyakan dengan mengajukan syarat bahwa Ia akan tetap mengantar bangsa itu ke tanah Kanaan, namun hanya akan membawa anak-anak generasi baru serta Yosua dan Kaleb.