Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Menuju Kota tak Nyaman

Sebagian orang menganggap ini adalah risiko sebuah kota.

Editor: Fransiska_Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagian orang menganggap ini adalah risiko sebuah kota. Sampah, macet, banjir, kriminalitas, polusi, kekumuhan, disebut sebagai 'penanda' daerah itu adalah kota. Manado sebagai sebuah kota, plus predikat sebagai ibukota, dianggap wajar bila mengantongi persoalan- persoalan tersebut.

Kita pun bercermin dari kondisi Jakarta, ibukota Indonesia. Tapi apakah kota ini mau menjadi "follower" Jakarta? Bila kita menanggap wajar semua persoalan-persoalan tersebut, tak perlu pula misi menjadikan kota ini sebagai daerah yang nyaman.

Tribun Manado edisi Kamis, 13 November 2014, mengulas persoalan kemacetan di Kota Manado. Kemacetan sudah menciptakan masalah bagi tiap-tiap orang yang mengalaminya: stres. Tak hanya pagi, sore pun demikian. Tak perlu dibayangkan lagi karena semua warga kota ini sudah merasakan bagaimana setelah pulang dan seharusnya punya waktu banyak berkumpul bersama keluarga, harus menunggu lebih lama di jalan, di tengah kebisingan, di tengah tengah tenaga yang sudah terkuras.

"Macet di Manado sudah seperti di Jakarta saja, apalagi berjam-jam, ya pasti stres. Kaki sakit karena menginjak gas, kopling, rem terus," tutur John Laoh, seorang pengendara.

Yakinlah, mereka yang berada di puncak pemerintahan tak akan mengalami kondisi seperti yang dialami John. Selain karena tidak menyetir kendaraan sendiri, ada patroli lalu lintas yang membuka jalan. Bahkan sebelum lewat, arus lalu lintas sudah harus terbuka, tanpa penghalang, termasuk lampu lalu lintas.

Satu sisi harus diakui bahwa persoalan kemacetan lalu lintas memperlihatkan perkembangan daerah ini. Semakin banyak penduduk, semakin banyak kendaraan, pendapatan daerah juga semakin banyak. Di sisi lain, persoalan ini adalah buah kebijakan yang tidak segera dikondisikan. Pemerintah sudah tahu dampak pertambahan kendaraan tapi lamban menambah kuantitas dan kualitas jalan. Pertumbuhan jumlah kendaraan yang setiap hari terjadi tak didahului dengan pembenahan jalan.

Saat ini memang penambahan jalan baru atau jalan alternatif harus dilakukan. Pemerintah tak dapat menyetop jumlah kendaraan karena tugas produsen kendaraan memproduksi kendaraan. Tapi, membuka jalan baru pun jangan sampai melupakan prinsip-prinsip lingkungan agar persoalan banjir tak menjadi momok bagi warga.

Kita berharap pembangunan jalan lingkar (ringroad), tol, serta pembukaan jalur-jalur alternatif lainnya dapat menjawab persoalan harian warga yang sering mengalami stres, karena kita tak ingin kota ini menjadi kota yang tak nyaman.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved