Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Caleg Jujur

HARI pertama kampanye terbuka, Minggu (16/3), di sana-sini terdengar janji-janji politik para juru kampanye.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Andrew_Pattymahu

HARI pertama kampanye terbuka, Minggu (16/3), di sana-sini terdengar janji-janji politik para juru kampanye.

Hiruk-pikuk dan pekik para orator bertalu-talu di seantero Tanah Air. Para politisi tingkat nasional hingga politisi di pelosok, dari ketua umum partai politik, juru kampanye nasional hingga calon anggota legislatif kabupaten dan kota seakan adu nyaring menyuarakan program, visi dan misinya untuk memikat dukungan kontituen.

Dua belas partai politik peserta Pemilu 2014 memanfaatkan momentum ini sebagai 'musim politik' hingga 5 April 2014 sebelum hari H pesta rakyat ke bilik suara memilih legislator, 9 April 2014.

Sebenarnya tak ada yang baru karena janji-janji itu mirip dengan pemilu-pemilu sebelumnya yaitu menempatkan rakyat sebagai pihak yang paling disayangi, dicintai dan akan dipenuhi segala kebutuhannya.

Ada partai yang mengklaim berbagai keberhasilan dalam membangun bangsa ini. Entahlah, keberhasilan mana yang diklaim. Dan entahlah, apakah mereka yang hadir dalam kampanye itu merasakan keberhasilan itu.  

Sebab buktinya, ada partai yang menyebut zaman sekarang ini banyak pembohong dan koruptor sedang bergentayangan untuk menipu rakyat. Mereka hanya berpikir bagaimana membohongi rakyat.

Dan masih banyak lagi pernyataan yang disampaikan partai- partai peserta Pemilu 2014, termasuk janji pendidikan gratis, santunan keluarga miskin dan lain sebagainya.

Rakyat--baca calon pemilih-- sekarang ini sudah cerdas. Mereka tahu siapa yang harus dipilih dan siapa yang tidak layak dipilih.

Meski harus diakui, sebagian masih bersikap pragmatis yakni ketika ada uang atau pemberian, maka caleg itulah yang akan dicoblos.

Dan inilah yang kemudian juga dimanfaatkan sebagian caleg yang boleh jadi tak memiliki program untuk rakyat, kecuali memang ingin dengan mudah duduk di kursi parlemen.

Di sini, ada dua hal yang menjadi catatan penting. Pertama, janji-janji yang berlebihan, yang tidak masuk akal, hanya akan menjadi bahan tertawaan rakyat karena diyakini tak akan bisa dipenuhi. Rakyat pun pasti enggan memilihnya.

Kedua adalah permainan uang jelas itu menodai pesta demokrasi. Bahkan sudah ada yang ancang-ancang, tetap akan menerima uangnya, tapi tidak memilih calegnya.
Jadi, jujurlah dalam berjanji dan jujurlah dalam mencari suara. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved