Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Dapil Neraka

Perebutan delapan kursi DPRD Sulawesi Utara untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Manado bakal menjadi ajang pesta demokrasi terpanas.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Andrew_Pattymahu

Perebutan delapan kursi DPRD Sulawesi Utara untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Manado bakal menjadi ajang pesta demokrasi terpanas. Sejumlah nama tokoh kondang bersaing di dapil 'neraka' ini. Partai Demokrat, ada tiga nama caleg andalan ditawarkan kepada pemilih yakni, Joudie Watung, James Karinda, dan Siska Mangindaan.

Kemudian PDIP menyodorkan nama tenar Andre Angouw dan Teddy Kumaat. Sedang di Golkar bercokol nama Yongki Limen dan Hanny Joost Pajouw. Tak mau kalah, Partai Gerindra mengajukan nama mantan birokrat kawakan, Ferdinand Mewengkang. Di Partai Hanura ada nama sekaliber Petrus Poluan, kemudian di Partai Nasdem diajukan nama Pdt. Feibe Lumanauw. Di PKPI ada Lendy Ruland Siwi.

Di barisan partai berbasis Islam ada Amir Liputo untuk PKS, lalu ada politisi senior, Djafar Alkatiri yang maju menggunakan bendera PPP. Di PAN ada nama Ayub Ali dan di PKB mengajukan  Jeffrey Rantung, kemudian di PBB ada nama Wardah Nonik Wakid.

Bagi PDIP dan Partai Golkar yang memiliki pendukung fanatik, menangguk kurang lebih 23.981 suara di Dapil Manado tidak terlalu sulit. Namun untuk parpol tergolong pendatang baru, cukup sulit. Kesemuanya berpulang kepada kecerdasan kandidat legislatif mengangkat isu-isu strategi yang mengundang simpati pemilih. Masa kampanye Pemilu yang akan dimulai tanggal 17 Maret atau sehari sesudah kampanye damai, akan sangat menentukan nasib parpol di pesta demokrasi lima tahunan ini.

Isu pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya akan kembali menghangatkan konstelasi politik di Nyiur Melambai. Di masa kampanye, persaingan bakal ketat dan panas. Pengalaman selalu menunjukan tak jarang ada aksi sikut-menyikut dan saling menyerang antara kandidat DPRD demi merebut simpati pemilih. Namun seperti kata orang bijak, kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin.

Di lain pihak, pemilih harus cerdas. Kita bisa melihat mana program atau isu yang dianggap masuk akal atau hanya "omong kosong". Program berkualitas tentunya dapat terukur, tak sekadar pepesan kosong untuk menyenangkan hati rakyat. Kita sudah cukup banyak makan garam. Jangan mau lagi dibodohi dengan rencana program "surga di telinga".

Seperti artikel yang ditulis di majalah Time edisi 17 Maret 2014, wartawan kawakan yang juga analis politik internasional Fareed Zakaria membahas soal krisis Ukraina. Dia melukiskan secara tersirat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin adalah seorang pemimpin dunia yang terjebak oleh sejarah.

Kita memang kadang terperangkap pada kejayaan masa lalu. Mengutip Henry Ford-pendiri Ford Motor Company-Zakaria mengatakan, "That is history. But history is a bunk." Sejarah adalah kenyataan, tetapi juga sebuah "omong kosong". Pada akhirnya sumua akan bergantung pada tindakan pemimpin dengan segala kepentingannya.

Semoga kita tidak terjebak pada "omong kosong" caleg yang suka modus untuk tujuan mengumpulkan kakayaan pribadi. Pemilu kali ini tentunya diharapkan mampu mengangkat dan menumbuhkan perekonomian yang bermuara pada kesejahteraan berkeadilan bagi seluruh rakyat Sulawesi Utara. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved