Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Semangat Ratulangi Tercabik

Buah politik tak sehat itu telah tampak. Lokasinya di kampus, tempat orang-orang terpelajar.

Penulis: Maximus_Geneva | Editor: Aswin_Lumintang

BUAH politik tak sehat itu telah tampak. Lokasinya di kampus, tempat orang-orang terpelajar. Orang yang berada di balik kejadian ini tentu adalah oknum yang lebih ingin melayani nafsu syahwat kekuasaannya ketimbang intelektualitas dan moralnya. Karena nafsunya, ia menggunakan intelektual tak bermoralnya mengadu mahasiswa.

Universitas Sam Ratulangi Manado, perguruan tinggi utama dan ternama di Sulawesi Utara ini dijadikan arena pemuas nafsu kekuasaan. Rabu (5/3) kemarin, ruang tempat menimba ilmu dibakar, belasan sepeda motor juga dibakar, dan sejumlah mahasiswa dilarikan ke rumah sakit setelah menjadi korban rusuh antarmahasiswa.

Rusuh ini tak lepas dari aksi sehari bahkan beberapa waktu sebelumnya. Ratusan mahasiswa dan dosen bersatu menuntut Donald Rumokoy turun dari jabatan rektor. Suara perubahan yang mereka dengungkan didengarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberhentikan Rumokoy dari jabatannya. Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ditunjuk sebagai pelaksana tugas rektor.

Begitu mahal harga perubahan itu sampai-sampai mengorbankan intelektualitas dan moralitas. Mungkin, seperti luka yang parah harus disembuhkan dengan kesakitan luar biasa, perubahan dalam kampus Unsrat harus dilalui dengan cara itu; tidak ada lagi cara lain yang lebih bermartabat, seperti revolusi dalam suatu negara. Atau mungkin dengan cara ini akan lebih cepat diketahui siapa sebenarnya yang bermain politik tak sehat itu.

Kampus bukan tempat berpolitik kotor dan bukan arena adu kekuatan untuk melukai atau menyengsarakan. Mana mungkin semangat si tou tumou timou tou yang dicetuskan mendiang Sam Ratulangi menjadi iman para intelektual di kampus Unsrat jika yang dipertontonkan hanya nafsu kekuasaan dan adu otot penuh emosi?

Kampus seharusnya menjadi tempat manusia belajar menumbuhkan semangat saling memanusiakan, bukan saling 'cungkel' (cungkil). Mana mungkin para calon cendikia dan cerdik pandai membangun Sulawesi Utara ini jika penuh curiga dan lebih mementingkan nafsu berkuasanya? Kita semua bersedih, mungkin juga Almarhum Sam Ratulangi.

Angin perubahan di kampus telah diembuskan. Apakah angin perubahan itu akan menyejukkan atau semakin mengobarkan api nafsu kekuasaan, tergantung Civitas Akademika Unsrat memilih yang mana. Yang pasti, kebaikan selalu menang, kita tinggal menunggu waktu terwujudnya.(*)

Sumber: Idea
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved