Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Alam, Saudara Kita

Bencana banjir dan longsor yang sudah mulai dirasakan pada 1997, 2000, 2013, dan tahun ini, sebenarnya menjadi tanda awas bagi segala

Penulis: Maximus_Geneva | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tahun Emas Sulawesi Utara yang diharapkan bergema tertutup oleh duka dan derita sebagian besar warga yang menghadapi terjangan banjir bandang dan longsor. Sulut yang diharapkan menjadi pintu gerbang Asia Pasifik harus menghadapi kenyataan bahwa daerah ini merupakan daerah rawan bencana.

Kita tidak bisa melepas mimpi Sulut menjadi kawasan yang maju, tempat negara-negara lain mengalirkan uangnya, layaknya Singapura atau Dubai atau kota mentereng lainnya di dunia. Namun kita juga tidak bisa melepas mimpi kita untuk mewujudkan daerah ini sebagai daerah yang nyaman dan aman serta bersahabat dengan lingkungan.

Bencana banjir dan longsor yang sudah mulai dirasakan pada 1997, 2000, 2013, dan tahun ini, sebenarnya menjadi tanda awas bagi segala mimpi-mimpi yang hendak kita wujudkan. Alarm tanda awas itu bahkan lebih cepat berbunyi. Sebelumnya berselang tiga tahun, kini menjadi tiap tahun. Belum kita lupa peristiwa pada Minggu, 17 Februari 2013 lalu, justru bencana yang sama dan bahkan lebih parah sudah kita rasakan di awal tahun ini, di saat kita memasuki Tahun Emas.

Peristiwa-peristiwa memilukan itu sekaligus menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah kita sungguh menjadikan bumi yang kita naungi ini sebagai rumah kita sendiri, sebagai sahabat dan saudara kita. Sekadar bertanya kepada pemerintah, berapakah anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaan lingkungan hidup? Nilainya pasti tidak segunung megaproyek yang hendak diwujudkan. Contoh kecil, pada 2012 lalu Badan Lingkungan Hidup Sulut hanya mendapat Rp 3 miliar untuk merawat seluruh Sulut ini.

Terjangan banjir bandang yang berpusat di ibukota Sulut, Manado, bisa menjadi suara protes sang alam atas ketidakberpihakan dan eksploitasi kita terhadapnya. Dia yang lebih dahulu dilahirkan daripada kita manusia mungkin sedang menegur kita agar tidak melupakannya sebagai saudara yang lahir dari rahim yang sama, Tuhan.

Ingat, alarm telah berbunyi. Sudah saatnya kita bangkit lagi. Kita tata daerah ini dan kita majukan. Tapi alarm itu menginginkan kita jangan lupakan saudara, sang alam.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved