Editorial Tribun Manado
Memilih Tribunus
Liando mencermati, para caleg mau dihormati, disegani, dan diistimewakan. Hal ini pun terkait kultur masyarakat kita bahwa orang yang
Penulis: Lodie_Tombeg | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah survei menyebutkan motivasi mayoritas calon anggota legislatif (caleg) di Sulawesi Utara (Sulut) mengikuti Pemilu 2014 adalah mengejar status sosial yang lebih tinggi. Mereka mengejar kekuasaan untuk mendapatkan akses sosial, politik, dan ekonomi yang lebih baik daripada masyarakat biasa.
Demikian diungkapkan Dr Ferry Liando dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (FISIP Unsrat) dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertopik Prospek Politik 2014 Antara Demokrasi Substansial dan Transaksional yang diselenggarakan Harian Tribun Manado bekerja sama dengan DPD Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Sulut di kantor Tribun, Kamis (19/12/2013).
Liando mencermati, para caleg mau dihormati, disegani, dan diistimewakan. Hal ini pun terkait kultur masyarakat kita bahwa orang yang punya jabatan dihormati. Motif caleg berikutnya ingin punya kekuatan (power). "Ingin cari power untuk mempengaruhi kebijakan. Kebijakan untuk apa? Kebijakan untuk kepentingan dia (sendiri) dan kelompoknya," kata Liando. Motif ketiga caleg mencari pekerjaan.
Dari penelitian ini, Liando menyampaikan intisari tujuannya, konstituen harus hati-hati memilih karena motif caleg bervariasi. "Masyarakat yang bisa menentukan dan menilai ingin memilih caleg seperti apa?" katanya. Liando pun pesimistis kualitas anggota Dewan hasil Pemilu 2014 akan lebih baik daripada Dewan hasil Pemilu 2009.
Hasil survei tadi mengingatkan kita pada sejarah Romawi sekitar tahun 500-an SM. Waktu itu, golongan orang kaya menginginkan lebih banyak kekuasaan. Kelompok ini memerlukan bantuan dari orang miskin. Jadi mereka berjanji kepada kaum miskin bahwa akan memperoleh lebih banyak kekuasaan dalam pemerintahan yang baru. Kaum miskin bersedia membantu, dan bersama-sama mereka menggulingkan kekuasaan raja.
Akan tetapi, kaum miskin tetap saja tidak memperoleh kekuasaan. Hanya orang kaya yang boleh dipilih ke dalam Senat Romawi. Akhirnya kaum miskin memaksa para aristokrat setuju bahwa kaum miskin dapat ikut memilih Tribunus. Tribunus sendiri harus dipilih dari golongan miskin, dan mereka mengikuti rapat Senat. Mereka berhasil memveto keputusan Senat yang sekiranya dapat berakibat buruk bagi kaum miskin.
Sistem demokrasi kita dengan Romawi kala itu memang beda. Namun keduanya bertujuan memperjuangkan keadilan masyarakat berbangsa dan bernegara. Artinya, jika orang berduit bisa jadi pemimpin (legislatif dan eksekutif), kaum miskin why not! Karena sistem demokrasi sudah membuka peluang itu. Cuma bedanya, rakyat kecil di Romawi mau melakukan perubahan. Mereka tak mau dikekang orang kaya, mereka ingin ambil bagian secara langsung dalam setiap kebijakan negara. Sementara kita, masih dapat dihitung dengan jari rakyat (pemilih) yang mau menggunakan idealisme. Banyak di antaranya yang masih mudah dibujuk, dirayu, bahkan diiming-iming uang (money politic). Bahkan lebih celaka lagi, ada yang sudah acuh tak acuh terhadap pemilu (golput) lantaran pesimistis bernegara atau alasan lainnya.
Satu yang perlu diingat dari perjuangan rakyat Romawi, mereka secara sadar dan bersatu padu memperjuangkan hak-hak politik kesetaraan. Karena jangan pernah berharap "durian runtuh" nasib kita akan lebih baik tanpa kita sendiri yang memperjuangkannya. Semoga Pemilu 2014 menjadi momentum perubahan itu! *