Editorial Tribun Manado
Manusia Langka
Beralih ke Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Bupati Sehan Landjar secara mengejutkan menolak pengadaan mobil dinas (mobnas)
Penulis: Lodie_Tombeg | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID - Ryan Giggs, gelandang Manchester United mengukir sejarah baru di dunia sepak bola Inggris. Dia merayakan hari ulang tahun ke-40 pada Jumat kemarin. Sulit rasanya mempercayai seorang pemain masih bisa eksis bermain sepak bola hingga usia 40 tahun.
Tetapi itulah fakta yang terjadi pada Giggs. Dia tetap mampu eksis meski harus melawan usia dan keterbatasan tenaga yang terus menggerogotinya. Istimewanya, di usia senja itu tak terlalu tampak penurunan performa dari pemain asal Wales tersebut.
Fakta teranyar sulit terbantahkan. Giggs masih mampu meladeni permainan lawan ketika dimainkan selama 90 menit dalam laga kontra Bayer Leverkusen pada matchday kelima Grup A penyisihan Liga Champions di Bay Arena, Leverkusen, Kamis (28/11). Sebelum laga melawan Leverkusen, Giggs juga dimainkan pada pertandingan Premier League Inggris ketika United menghadapi Cardiff City, Minggu lalu. Itu artinya, volume pertandingan yang dimainkan Giggs tak jauh beda dengan pemain reguler lainnya.
Beralih ke Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Bupati Sehan Landjar secara mengejutkan menolak pengadaan mobil dinas (mobnas) Toyota Camry. Langkah Sehan menolak pemberian mobnas tersebut, tidak hanya sekali saja. Terhitung sudah lima kali rencana pergantian mobnas yang diajukan oleh bawahannya tersebut ditolaknya.
Mobil Toyota Camry senilai Rp 650 juta yang akan diplot dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Boltim 2014, ditolaknya. Sehan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya yang belum lama dibeli ketimbang menyetujui pembelian mobil yang baru menggunakan uang rakyat.
Sehan bukanlah Giggs. Namun benang merahnya, Bupati Boltim tak seperti kebanyakan pemimpin daerah lainnya. Kurang lebih menyerupai Giggs sebagai manusia langka di sepak bola. Lihat saja, di tengah maraknya para pemimpin daerah di Tanah Air menikmati fasilitas negara bahkan "menguras" uang rakyat, dia memilih menolaknya.
Dia beralasan lebih mengutamakan kepentingan rakyat seperti perbaikan jalan pertanian, irigasi, drainase, renovasi rumah tidak layak huni, dan program riil lainnya. Sehan tidak mencari popularitas, sebab semuanya untuk kepentingan rakyatnya.
Untuk masalah satu ini (aksi menolak mobnas), Sehan dapat dijadikan bahan evaluasi sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi kita (rakyat) menghadapi pemilihan legislatif dan pemilihan presiden tahun 2014. Pemimpin yang prorakyat tak sekadar beretorika saat kampanye, melainkan harus dipraktikkan dalam kehidupan kepemimpinannya.
Tak elok rasanya, seorang pemimpin tampil gagah-gagahan menggunakan fasilitas negara yang dibiayai uang rakyat, sementara di sana-sini masih banyak orang yang kesulitan bepergian akibat jalan rusak, kesusahan mengangkut hasil pertanian lantaran jalan perkebunan tak memadai, anak putus sekolah gara-gara biaya pendidikan mahal, belum menikmati fasilitas listrik, dan banyak lagi persoalan pelik di masyarakat. Kita berharap teladan Bupati Sehan dapat ditularkan kepada pemimpin daerah lainnya ke depan. Kan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. *