Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Masalah Sosial

SEBAGAI manusia jelas hati akan terketuk ketika melihat penderitaan orang.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Andrew_Pattymahu

SEBAGAI manusia jelas hati akan terketuk ketika melihat penderitaan orang. Rasa iba pasti menghinggapi ketika kita melihat peminta-minta dengan penampilan kumuh dan memprihatinkan.

Rasa belas kasih kita sontak tergugah untuk membantunya, sekedar memberi uang recehan. Namun tidak sedikit yang merogoh kocek dalam jumlah besar demi membantu orang yang perlu dibelaskasihi yang berada di depan mata.

Sayangnya, tidak semua peminta-minta itu layak dikasihani. Bahkan cara meminta- minta ini menjadi modus mencari uang dengan cara mudah. Sejak Rabu (27/11) hingga kemarin, media-media gencar memberitakan kisah Walang bin Kilon.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com, dengan rambut yang sudah beruban, kulit yang mulai keriput dan giginya yang kuning, pria 54 tahun, terlihat seperti orangtua yang memelas untuk dikasihani.

Apalagi jika dia mulai mendorong gerobak yang dinaiki Sa'aran bin Satiman (70), tetangganya di Kampung Waladin RT 024/06, Kelurahan Pasir Bungur, Kecamatan Purwodadi, Subang, Jawa Barat.

Banyak orang tertipu. Dua sahabat tersebut buktinya mampu mengumpulkan uang dalam jumlah fantastis, membuat miris. Uang sebesar Rp 25.448.600 terkumpul hanya dalam tempo 15 hari mengemis belas kasihan masyarakat.

Saat ditanya dari mana uang itu didapat, Walang menampik seluruhnya merupakan hasil mengemis. Dirinya menyebutkan sebagian besar dari uang itu dibawanya dari kampung halamannya di Subang, Jawa Barat.

Menurut Walang, baru 6 bulan dia mengemis di Jakarta. Selama 6 bulan, dia dan Sa'aran mengelilingi Jakarta dengan mendorong gerobak. Walang sebagai pendorongnya, dan Sa'aran yang duduk di atas gerobak sebagai orang yang sakit.

"Ya saya muter saja. Assalammualaikum... Kasihan, Pak. Terus dapet uang. Gitu saja," ujarnya menyampaikan kalimat yang biasa diucapkan dalam meminta- minta..

Bahkan ketika ditangkap petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Walang berani menyiapkan sejumlah uang untuk menyuap agar dibebaskan. Beruntung, petugas penertiban itu menolaknya.

Jelas kisah ini sangat menyedihkan. Kemiskinan pun dipolitisir oleh orang yang jauh dari ingar-bingar politik untuk mendapat keuntungan sendiri. Pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat para peminta-minta. Harus ada data base latar belakang para peminta-minta ini untuk pembinaan dan menjadikan hidupnya lebih baik.

Harus ada yang konsen terkait masalah-masalah sosial demikian. Sifatnya tidak radikal, sekonyong-konyong, tapi harus menyeluruh. Semoga ini membuka mata kepada aparatur pemerintah dan pemimpin-pemimpin di daerah untuk melakukan tindakan nyata menangani masalah sosial ini. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved