Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Inspirasi Bocah Ajaib

Bagi sebagian orang pasti sudah mengenal Tristan Alif Naufal.

Penulis: | Editor: Aswin_Lumintang
STREAMUK Ilustrasi bola. 

BAGI sebagian orang pasti sudah mengenal Tristan Alif Naufal. Bocah laki-laki delapan tahun itu piawai memainkan si kulit bundar dan aksi ciamiknya bisa disaksikan di YouTube. Video-video kehebatan Tristan pun banyak dikomentari pengaksesnya.

Bahkan, mantan pelatihan Barcelona yang kini membesut Bayern Muenchen, Pep Guardiola pun mengaguminya dan yakin, Tristan bakal menjadi pemain hebat. Lebih dari itu, Pep menawari untuk melatihnya.

Kini, Tristan diundang berlatih di klub elite Belanda, Ajax Amsterdam. Kemampuan individu bocah kelas 4 SD itu mengundang ketertarikan Akademi Ajax Amsterdam. Kamis (31/10) kemarin, dia bertolak dari Jakarta ke Amsterdam ditemani kedua orangtuanya, Ivan Trianto dan Irma Lansano, Managing Director The Footballicious, Andhika Suksmana, dan mantan fisioterapis Timnas, Matias Ibo. 

"Aku mau bawa dua bola. Kalau sedang (transit) di bandara, aku mau melemaskan kaki-kakiku dengan juggling bola. Kalau sudah sampai di sana pun aku bisa latihan sendiri. Ini ideku sendiri," ungkap Tristan seperti dikutip Tribunnews.com.

Tristan terus mengasah kemampuannya bermain bola. Dia sangat serius, dan siap mengikuti latihan di Ajax dengan materi dribling, juggling, ball feeling, shooting, dan cara melewati lawan.

Kemauan keras Tristan bisa menjadi inspirasi buat bangsa ini untuk meraih kemajuan di dunia olahraga. Sepakbola kita mulai mampu bicara di kancah internasional setelah Timnas U-19 Indonesia mampu meraih trofi Piala AFC 2013.

Tak lama berselang mengangkat piala itu, Evan Dimas dan kawan-kawan sukses lolos ke putaran final Piala Asia 2014 dan menang telak 3-1 atas Korea Selatan. Sungguh prestasi yang membanggakan.

Kini, Timnas Senior yang dilatih Jacksen F Thiago akan kembali melakoni laga lanjutan Kualifikasi Piala Asia 2015 melawan China. Setelah berhasil menahan imbang 1-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Boas Soloza dan kawan-kawan giliran akan bertandang ke China. Besar harapan, Indonesia lolos ke putaran final.

Cemerlangnya prestasi sepakbola Indonesia jelas tak lepas dari tak lagi ada banyak konflik di tubuh organisasi sepakbola Indonesia, PSSI. Keinginan bersama-sama membangun sepakbola Indonesia menjadi bagian utama dalam menjalankan roda organisasi.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia bukanlah organisasi kemarin sore. Keberadaannya diakui oleh dunia dan bahkan tidak boleh diintervensi oleh pemerintah. Jelas, sebuah organisasi yang matang.

Orang-orang yang berkecimpung di PSSI haruslah orang yang peduli akan dunia sepakbola dan berkeinginan memajukan prestasi sepakbola Indonesia. Seperti pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan bahwa orang Muhammadiyah harus menghidupi Muhammadiyah, bukan mencari hidup di Muhammadiyah.

Maka, hidup-hidupilah PSSI dan jangan mencari hidup di PSSI. Niscaya, sepakbola Indonesia akan semakin maju. Terlebih terinspirasi oleh sepak terjang si bocah ajaib, Tristan Alif Naufal. (*)

Sumber: Idea
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Supercopy

 

Menjaga Muruah DPR

 

Parkir

 

"Merah Putih dan Valentine!"

 

Harga Diri Polisi! Masihkah Elok?

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved