Editorial Tribun Manado
Bangkit Sepakbola Sulut
Kekalahan PS Manado terhadap Persminsel 2-1 di Divisi II Liga Indonesia hampir pasti memupus kesebelasan asal ibu kota Sulut naik level
Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
KEKALAHAN Persatuan Sepakbola Manado (PS Manado) terhadap Persminsel 2-1 di Divisi II Liga Indonesia hampir pasti memupus kesebelasan asal ibu kota Sulut naik level ke Divisi I Liga Indonesia tahun depan.
Artinya keinginan masyarakat Manado melihat lagi seniman bola Manado bertarung di kasta tertinggi sepakbola tanah air masih sebuah mimpi. Sebab dengan tertutupnya peluang PS Manado naik kasta membuat tahun depan mereka masih akan bertarung di Divisi II.
Meski begitu kemenangan Persminsel atas PS Manado juga memberi peluang bagi kesebelasan kebanggaan warga Minsel tahun depan bisa bertarung di level Divisi I Liga Indonesia. Hal ini bisa terealisasi jika di partai pamungkas Persminsel berhasil meredam sang pemuncak klasemen sekaligus tuan rumah Persidago Gorontalo.
Jika Persminsel sukses mengalahkan Persidago Gorontalo tentu ini menjadi kebanggaan bagi Pemprov PSSI Sulut. Sebab dengan begitu kesebelasan asal Sulut yang bermain di Divisi I Liga Indonesia akan menjadi dua. Karena musim ini PSKT Tomohon akan bermain di level Divisi I.
Artinya saat ini yang paling berpeluang secepatnya menuju ke kasta tertinggi liga Indonesia adalah PSKT Tomohon. Hanya memang untuk menuju ke kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia membutuhkan kerja keras, finansial dan dukungan semua pihak.
Tak mudah tetapi bukan tidak mungkin. Sulawesi Utara pernah membuktikan bahwa anak-anak bumi nyiur melambai mampu mewarnai papan atas persepakbolaan Indonesia dengan bermainnya Persma, Persmin dan Persibom di Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina).
Namun, seiring dengan dilarangnya memakai dana APBD dan APBN dalam mengelola sepakbola, seketika itu juga kiprah Persma, Persmin dan Persibom memudar. Karena memang pengelolaan saat itu melibatkan pemerintah daerah dengan memakai uang negara.
Kendalanya pengelolaan Persma, Persmin dan Persibom ketika itu belum bisa dikelola secara profesional. Apalagi tak ada pihak swasta yang menyatakan kesanggupan membiayai ketiga kesebelasan kebanggaan warga Sulawesi Utara. Akhirnya kejayaan sepakbola pun berakhir.
Saat ini mimpi kembali ke masa jaya sepakbola daerah ini sedang dirintis. Termasuk dengan giatnya kembali Persma 1960 berlatih untuk berlaga di Divisi III Liga Indonesia. Jalan menuju kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia masih jauh dan berliku. Namun, semangat menuju ke Liga Super Indonesia harus terus dipupuk dengan kerja keras dan keterlibatan semua pihak.(*)