Editorial Tribun Manado

Pemimpin Perempuan

Istilah pemimpin perempuan jadi tren dan hangat diperbincangkan di tengah penguasaan kaum lelaki terhadap beragam aspek kehidupan.

Pemimpin Perempuan
TRIBUN MANADO/SUSANTO AMISAN
Bupati Mitra, Telly Tjanggulung bersama muspida dan JS-RK di atas podium. 

Istilah pemimpin perempuan (srikandi) jadi tren dan hangat diperbincangkan di tengah penguasaan kaum lelaki terhadap beragam aspek kehidupan. Namun sedikit beda di Sulawesi Utara (Sulut). Pemimpin srikandi makin menancapkan kukunya
di daerah ini.

Mulai dunia politik, pemerintahan (birokrat), hingga berbagai bidang tak sedikit menampilkan perempuan. Sebut saja ada pemimpin daerah seperti Marlina Moha-Siahaan (mantan Bupati Bolmong), Vonny Panambunan (mantan Bupati Minahasa Utara), Telly Tjanggung (Bupati Minahasa Tenggara), dan Christiany "Tetty" Paruntu (Bupati Minahasa Selatan).

Mereka adalah contoh perempuan luar biasa yang memiliki karier di bidang politik cukup cemerlang. Belum lagi di posisi wakil bupati, ada Yulisa Baramuli (Minut), Syenie Watulangkow (mantan Wakil Wali Kota Tomohon). Tak hanya pemimpin eksekutif, di legislatif wanita Sulut tak kalah berjaya. Ada Jenny Tumbuan (mantan Ketua DPRD Minsel), Sus Pangemanan (mantan Ketua DPRD Minut), dan Meiva Lintang, Ketua Deprov Sulut.

Kini peran perempuan sebagai pemimpin daerah makin diperkokoh hadirnya Tatong Bara. Minggu (22/9), politikus perempuan dari Partai Amanat Nasional ini dilantik sebagai Wali Kota Kotamobagu. Prosesi pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kotamobagu 2013-2018 diawali saat Sekretaris DPRD Kotamobagu, Irianto P Mokoginta  membacakan surat keputusan Mendagri tentang pemberhentian Wali Kota Kotamobagu 2008-2013, Djelantik Mokodompit.

Saat Irianto menyebutkan nama Tatong Bara, hadirin yang berada di blok D tampak bertepuk tangan riuh menyambut kehadiran sang pemimpin perempuan baru. Rakyat Kotamobagu khususnya dan Sulut umumnya bersukacita. Tatong adalah wanita kedua (setelah Marlina) yang dipercayakan rakyat untuk memimpin satu daerah di tanah Totabuan.

Sejarah gender di Sulut memang terbilang pasang surut. Bahkan di era penjajahan sekalipun, daerah yang dikenal dengan sebutan Nyiur Melambai ini telah melahirkan tokoh (pahlawan) nasional perempuan, yakni Maria Walanda Maramis. Kendati begitu, harus fair kasus kekerasan terhadap perampuan masih sering kita dengar. Istri yang sering menjadi korban kekerasan dari suami, termasuk perdagangan perempuan.

Tak sedikit terekspos perempuan Manado yang sering menjadi korban aksi trafficking atau secara sengaja terjun dan menjerumuskan diri ke dunia gemerlap (wanita penghibur). Tentu itu menjadi tantangan kita bersama. Harapan besar pun digantungkan kepada para pemimpin perempuan di Sulut. Sebaliknya, para perempuan di daerah ini bisa mencontohi Tatong Bara Cs di mana saja tempat berkariernya. Pelantikan Tatong yang bersamaan dengan gaung perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-49 Sulut dapat dijadikan momentum kebangkitan bagi perempuan Sulut. Tak sekadar pemimpin politik dan pemerintahan, kita berharap mereka akan tampil cemerlang di berbagai bidang seperti pendidikan, civil society, olahraga dan masih banyak lagi. *

Penulis: Lodie_Tombeg
Editor: Aswin_Lumintang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved