Catatan Seorang Jurnalis
Air Mata Gertruida
Senin (29/12/2025) adalah hari dimana saya paling banyak meneteskan air mata. Panti Werda Damai di Kelurahan Ranomuut, terbakar.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Saya mau berdoa, Tuhan, tapi lidah kelu. Pikiran saya pun hampa dan mulai terisi gelap.
Dalam gelap, saya mulai memandang segalanya gelap. Termasuk takdir.
Saya sempat berpikir, mungkin Soe Hok Gue benar.
Hidup yang paling bahagia adalah yang tidak dilahirkan, yang bahagia adalah mati muda dan paling menderita adalah mati di usia tua.
Saya lantas bertemu Ci Hoa dan segalanya terang kembali.
Ci Hoa saya temui di RSUD Manado. Ia adalah salah satu penghuni panti yang selamat.
Berada di sana untuk perawatan, tapi Ci Hoa tak tampak seperti perawat bagi jiwa yang gemar mengeluh dan mempertanyakan takdir.
Ia piatu. Tak punya ayah, ibu, anak, sanak.
Ci Hoa bahkan kehilangan teman sekamarnya yang wafat dalam peristiwa itu.
Ci Hoa hanya bisa jalan dengan bantuan tongkat.
Tapi wajahnya tenang dan damai. Auranya seperti pemenang.
Ci Hoa bercerita, dirinya selamat setelah pengawas mengetuk pintu kamarnya saat panti itu mulai diterjang api.
Cia Hoa berjalan dengan susah payah, sambil daraskan doa. Di saat saat kritis, datang seorang penatua. Ia membopong Ci keluar.
"Tuhan sudah kasih kesempatan saya hidup, maka saya harus terus hidup untuk memuliakan namaNya," kata dia kepada saya.
Saya terdiam. Airmata menetes lagi. Kali ini bukan getir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PANTI-WERDA-Suasana-di-Panti-Werda-Damai-di-Kelurahan-Ranomuut87905.jpg)