Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Apologet Bersepatu Bola
Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham optik oleh para teolog liberal.
- Para pemuja paham kedaulatan manusia kian lantang merayakan penyingkiran total Kekristenan dari publik yang mereka sebut puncak peradaban.
- Di atas mimbar pun setali tiga uang. Gott ist tot.
Kita telah tiba di suatu masa ketika orang orang merayakan matinya Tuhan.
Gereja gereja di Eropa beralih fungsi menjadi bar.
Mukjizat dibuang dari Alkitab ; kisah Yesus berjalan di atas air dipangkas habis dan dianggap sebatas metafora puitis atau sekadar salah paham optik oleh para teolog liberal.
Para pemuja paham kedaulatan manusia kian lantang merayakan penyingkiran total Kekristenan dari publik yang mereka sebut puncak peradaban.
Di atas mimbar pun setali tiga uang. Gott ist tot.
Yesus yang dikhotbahkan kini kerap menjadi Yesus yang lain.
Ia yang disalibkan untuk menebus dosa dan bangkit membawa kemenangan maut, tidak lagi dikenali.
Umat cenderung memuja Yesus yang perkasa hanya sebagai sosok pembuat mukjizat yang bertugas mengabulkan semua daftar permintaan manusia.
Namun, ada kerapuhan eksistensial yang tersembunyi di balik ketegaran semu manusia modern.
Di balik senyum sinis yang menolak keberadaan surga, kecemasan batin tetap menganga.
Kita berhasil memperoleh seisi dunia, tetapi kehilangan hidup itu sendiri.
Tepat di saat mimbar mulai runtuh menjadi puing dan para apologet kepayahan berduel melawan kaum ateis, Tuhan justru berbicara melalui cara yang tak terduga.
Ia meminjam kaki-kaki legam yang menendang bola di panggung Piala Dunia.
Di tengah publik global yang skeptis terhadap agama, miliaran pasang mata - termasuk warga yang tengah noreng (nonton bareng) di lorong-lorong padat Kota Manado - menyaksikan bagaimana hukum bola dipaksa tunduk pada kedaulatan Ilahi.
Ingatan saya terlempar pada momen ketika wasit meniup peluit panjang di Stadion Internasional Yokohama, Jepang, pada final Piala Dunia 2002. Brasil baru saja mencukur Jerman 2-0 untuk merengkuh trofi kelima mereka.
Di atas lapangan, para pemain Brasil langsung membentuk lingkaran besar dan berdoa dengan sangat khusyuk.
Lúcio, sang libero tangguh, membuka jerseynya untuk memamerkan kaus dalam bertuliskan "I Belong to Jesus".
Di sampingnya, Kaká yang kala itu masih menjadi pemain muda, menuliskan kesaksian sederhana namun bernas: "Jesus, the Way of Life".
Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, kemunculan para "Apologet Bola" ini justru kian marak.
Ada Jérémy Doku, bintang muda Manchester City dan timnas Belgia, yang mendadak viral karena rutin membagikan renungan Alkitab di media sosialnya.
Ia mengutip Kisah Para Rasul 12 tentang kisah dipenjarakannya Petrus hingga pembebasan ajaibnya oleh malaikat.
Doku bersaksi secara radikal, meminta setiap manusia menerima Injil agar dibebaskan dari belenggu dosa yang mengikat hati.
Di kubu timnas Inggris, ada kisah tentang Bukayo Saka, Eberechi Eze, dan Noni Madueke.
Tiga pilar andalan lini depan Tiga Singa ini ternyata membentuk kelompok pendalaman Alkitab resmi di dalam internal tim.
Aktivitas rohani ini kian gencar mereka lakukan menjelang turnamen akbar ini dimulai, seraya mengajak rekan setim dan para penggemar untuk ikut merenungkan firman.
Ada pula Christian Pulisic, sang kapten timnas Amerika Serikat. Pulisic memiliki ritual tak tergoyahkan untuk membaca Injil dan mendengarkan musik gospel di ruang ganti sebelum bertanding, termasuk menjelang laga perdana melawan Paraguay.
Kepada para jurnalis, Pulisic gemar membagikan perspektif iman Kristen yang murni ; bahwa mengikut Kristus berarti harus siap memikul salib-Nya sendiri.
Bahkan Neymar Jr., mega bintang Brasil yang sarat kontroversi, dalam kejujuran yang langka mengakui bahwa dirinya sangat rapuh dan mustahil bisa melangkah tanpa topangan Tuhan.
Makanya para apologet bola ini mengingatkan kita. Jangan lupa Tuhan.
Ketika peradaban modern mungkin dapat mengunci pintu gereja tua di Eropa.
Tapi kerinduan manusia akan Tuhan tidak akan pernah bisa dibunuh.
Melalui doa berlutut, peluh dan kaus bertuliskan nama Yesus, para pemain tengah menggugat Atheisme dan kesombongan zaman.
Mereka bersaksi bahwa trofi, ketenaran, dan jutaan dolar tidak akan pernah sanggup mengisi palung hati manusia yang haus akan kekekalan. (Art)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penjualan-bendera-negara-peserta-Piala-Dunia-2026-di-Pasar-45.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.