Opini
Catatan Seorang Jurnalis: Sudut Oranje di Manado
Pahlawan-pahlawan asal Minahasa termasuk yang paling gigih membela republik.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Saat itu, ia melukiskan, ibarat pesta.
"Warga bersukaria, nonton bareng, apalagi kalau menang," katanya.
Ia bercerita, pernah Belanda absen piala Dunia.
Dan seisi kampung jadi kampung mati saat piala Dunia.
Demi Belanda, ia tak ragu rogoh kocek dalam dalam.
"Saya keluarkan lima juta untuk pasang bendera," katanya.
Dia beriktiar akan menaikkan bendera Belanda lebih tinggi lagi jika Belanda lolos 16 besar.
Cinta Asman kepada timnas Belanda tak bersyarat.
"Meski mereka kalah kami tetap dukung karena ada kedekatan historis antara kami dengan timnas Belanda," kata dia.
Cinta itu kadang membuatnya nekat.
Saat timnas Belanda datang di Indonesia, ia nekat ke Jakarta.
Begitupun saat PSV Eindhoven, klub papan atas Belanda tampil di Manado.
Ia terhitung yang pertama datang ke stadion.
Ia menyerukan kepada semua keluarga turunan Belanda di Manado agar mendoakan kiprah Frankie De Jong dan kaan kawan di Piala Dunia kali ini.
"Mari kita bawa Belanda dalam doa," katanya.
(Tribun Manado/Arthur Rompis)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bendera-Belanda-mulai-laku-di-sentra-penjualan-bendera-negara-peserta-Piala-Dunia.jpg)