Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan?

Riset akademik di Standford University disebutkan kecerdasan buatan sudah bisa mengalahkan atau menyamai manusia dalam menjawab soal-soal kasus medis

Editor: David_Kusuma
Kolase/Tribunmanado.co.id/Dokumentasi Pribadi
Dosen FKM Unsrat Manado dr Adi Tucunan MKes 

Oleh: Adi Tucunan (Dosen FKM Unsrat)

DALAM sebuah podcast bersama Peter Diamandis, orang terkaya di dunia dan salah satu pengembang kecerdasan buatan terkemuka Elon Musk, pernah mengatakan bahwa mungkin saja sekolah kedokteran tidak dibutuhkan lagi di masa depan karena kemampuannya bisa melebihi seorang dokter medis dalam konteks mendiagnosis penyakit, melakukan prosedur medis tingkat tinggi, memberikan rekomendasi pengobatan bahkan memutuskan tentang hidup matinya seseorang.

Bahkan dalam buku Noise: A Flaw in Human Judgement yang ditulis oleh 3 orang profesor papan atas termasuk Profesor Daniel Kahneman seorang pemenang Nobel ekonomi, mereka menulis bahwa kecerdasan buatan alias mesin bisa memprediksi lebih akurat dibanding seorang dokter dengan tingkat presisi lebih tinggi. 

Dan dalam beberapa riset yang dimuat di JAMA, riset akademik di Standford University disebutkan kecerdasan buatan sudah bisa mengalahkan atau menyamai manusia dalam menjawab soal-soal kasus medis. Ini bisa berarti kita sudah memiliki dokter yang tidak akan pernah lelah menganalisis kasus medis, tidak perlu dicari dimana-mana dan kunjungan ke negara-negara maju, tidak dibatasi dengan waktu dan tidak kelelahan melayani pasien yang bertanya. 

Bisakah Dokter Kalahkan AI?
    Dalam suatu kesempatan Prof Thomas Inui, seorang dokter, akademisi, peneliti terkemuka dalam bidang pelayanan kesehatan pernah mengemukakan bahwa peran dokter suatu waktu akan berubah digantikan oleh mesin. Prediksinya hari ini mulai terjadi, di mana peran tradisional dokter dalam mendiagosis penyakit, menentukan terapi bahkan konsultasi mulai tergantikan perlahan oleh AI.

Dalam beberapa kasus tindakan pembedahan AI sudah banyak melakukan upaya sama seperti yang dilakukan oleh dokter manusia. Kita hari ini harus menyampaikan selamat datang dokter AI yang siap bersaing dengan dokter manusia. Apakah peran AI memang harus benar-benar mereduksi peran dokter manusia dalam kasus identifikasi dan diagnostic penyakit? Kemajuan teknologi di abad-21 merupakan revolusi terbesar dalam sejarah dengan menghadirkan AI sebagai kompetitor terdepan mengalahkan tenaga manusia dalam menyelesaikan banyak masalah kesehatan

Di satu sisi, para dokter dan tenaga medis boleh merasa pesimis dengan hadirnya AI masih dengan asumsi bahwa kita akan aman karena manusia masih ingin dilayani manusia karena memiliki emosi bahkan empati; tapi di lain pihak kita juga khawatir bahwa dengan AI yang bisa belajar dengan cepat mengadopsi perilaku manusia yang ditunjukkan dalam kompilasi data digital yang dengan cepat dia pelajari; sampai suatu ketika AI seolah-olah bisa merasa apa yang dirasakan oleh seorang pasien.

Bisakah AI mengalahkan manusia? Dalam hal mendiagnosa pasien dan menentukan keputusan yang tepat apa yang harus dilakukan untuk membantu seorang pasien, kalau bisa dikatakan nampaknya AI sudah selangka lebih maju daripada manusia. Akurasi diagnostic, kecepatan belajar status pasien dan keputusan apa yang perlu dilakukan AI sudah menjadi terdepan.

Tidak mengherankan beberapa petinggi AI bahkan riset ilmiah sudah banyak menunjukkan jika AI dapat melampaui pekerjaan yang dilakukan para dokter. Artinya AI bisa melebihi dokter dengan kemampuannya dan bahkan mengetahui seluk beluk pasien dibanding pasien itu sendiri karena AI dapat menganalisis jutaan data kesehatan, memprediksi penyakit sebelum gejala muncul, mengetahui pola biologis, psikologis dan perilaku individu.

AI akan canderung mendegradasi peran dokter karena dia adalah mesin dengan kecepatan menyerap informasi paling tinggi dibanding manusia itu sendiri dan dengan cepat menjawab pertanyaan yang diberikan padanya dengan memberikan solusi. 

Terlepas dari kekurangan AI bisa menciptakan bias jika informasi yang didapatnya salah, tapi dalam banyak informasi yang akurat bisa belajar lebih cepat dibanding dokter itu sendiri. Jika sekolah kedokteran menciptakan dokter harus belajar bertahun-tahun lamanya dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar dan tingkat stress yang tinggi karena kemanusiaan mahasiswa kedokteran, maka jika AI menjadi murid dialah murid paking cerdas sebagai calon dokter.

Artinya, kurikulum medis sudah dikuasai dengan sempurna oleh AI secara teknis. Itu sebabnya, jika pekerjaan dokter hanya berkaitan dengan teknis semata termasuk kemampuan diagnostik dan keahlian pembedahan, maka AI bisa lebih unggul di sana. Sebaliknya, jika manusia mengedepankan keunggulan kompetitif dari aspek humanis dia yaitu bisa merasakan emosi, berempati, berkomunikasi, tersenyum dan bersosialisasi yang ini semua tidak dimiliki AI maka para dokter dapat mempertahankan perannya.

Peran tradisional para dokter nampaknya akan menjadi usang dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu sekolah-sekolah kedokteran harus mampu membaca fenomena ini dan tidak terjebak dengan tradisi konvensional tanpa tahu ada ancaman besar bagi profesi kedokteran. Porsi kurikulum yang mengedepankan masalah teknis (pembahasan anatomi tubuh) dan pemecahan masalah dengan evidence-based bisa terancam dengan kehadiran AI.

Berarti kita perlu memikirkan strategi baru dalam mengelola kurikulum sekolah kedokteran standar karena hari ini kita hidup di era yang berbeda dengan tingkat evolusi peradaban yang sangat cepat melampaui beberapa abad sebelumnya. Apa yang masih bisa menyelamatkan profesi dokter itu sendiri? Menurut Prof. Thomas Inui, dokter ke depan hanya akan dicari sebagai konsultan, sedangkan diagnosa penyakit, pengobatan dan teknis lainnya akan diambil alih oleh mesin.

Seandainya peran konsultan itu hanya akan dilakukan para dokter masa depan, kita harus bersiap mengubah kurikulum dan cara pandang kita melihat dunia medis dan itu membuat kita mengubah perilaku profesional kita sendiri.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved