Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Otak Dangkal di Lautan Digital

Fakta objektif tidak lagi menjadi pusat orientasi publik, melainkan tenggelam oleh emosi, identitas kelompok, algoritma, dan opini yang paling nyaring

Dokumen Pribadi
Hery Mety, alumnus STFSP dan IAIN Manado 

Oleh: 
Herkulaus Mety, S.Fils., M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado

DI zaman ketika jari bergerak lebih cepat daripada akal budi, manusia tampak semakin rajin berbicara, tetapi semakin sulit berpikir utuh. WhatsApp Group, Facebook, dan berbagai ruang digital lain memberi kesan bahwa semua orang kini bisa menjadi komentator atas apa saja. Namun, di balik kemudahan itu, tampak gejala yang kian mengganggu: komentar yang tidak sambung, pikiran yang melompat-lompat, kalimat yang bertele-tele, argumen yang tipis, dan dorongan untuk tampil, pamer, atau mencari pengakuan. Di ruang digital, banyak orang bukan sedang berdialog, melainkan sedang memantulkan diri di hadapan khalayak yang tak selalu mereka kenal.

Fenomena itu tidak bisa dibaca sebagai masalah etiket semata. Ia adalah gejala pergeseran cara kerja otak, cara manusia memaknai diri, cara masyarakat membangun kebenaran, dan cara iman memahami kedalaman hidup. Kita sedang hidup dalam ekosistem digital yang memproduksi kecepatan, kepingan informasi, dan reaksi instan. Pada saat yang sama, ekosistem itu membentuk manusia yang makin mudah terpancing, makin sulit hening, dan makin tergoda untuk mengukur nilai diri dari respons orang lain. Di titik inilah persoalan teknologi berjumpa dengan persoalan moral, psikologis, sosial, dan teologis.

Kecenderungan tersebut semakin nyata dalam era post-truth, ketika fakta objektif tidak lagi menjadi pusat orientasi publik, melainkan tenggelam oleh emosi, identitas kelompok, algoritma, dan opini yang paling nyaring. Kebenaran tidak lagi dicari dengan sabar; ia direduksi menjadi sesuatu yang nyaman bagi perasaan, menguntungkan bagi identitas, atau viral bagi audiens. Dalam suasana seperti ini, media sosial bukan sekadar ruang komunikasi, melainkan ruang pembentukan kesadaran. Dan pertanyaannya menjadi sangat mendasar: apakah manusia masih mengarahkan teknologi, atau justru teknologi dan logika algoritmik yang perlahan mengarahkan manusia?

Otak yang Dipaksa Reaktif

Dari sudut pandang neuropsikologis, media sosial dan komunikasi digital yang serba cepat memengaruhi cara otak memproses rangsangan. Nicholas Carr (2010) mengingatkan bahwa internet cenderung mendorong pola pikir yang dangkal, terpecah, dan penuh distraksi. Pikiran tidak lagi dipelihara untuk bertahan lama pada satu pokok, melainkan dilatih untuk meloncat dari satu stimulus ke stimulus lain. Notifikasi, pesan masuk, cuplikan video, judul sensasional, dan komentar pendek bekerja seperti potongan-potongan rangsangan yang terus meminta perhatian. Akibatnya, otak cenderung lebih reaktif daripada reflektif.

Dalam bahasa sederhana, manusia digital makin sering merespons daripada merenung. Respons cepat memang berguna dalam situasi tertentu, tetapi bila menjadi kebiasaan, ia mengikis daya tahan kognitif. Kejelasan berpikir memerlukan jeda, sementara budaya digital mendorong segala sesuatu harus segera dijawab. Tidak mengherankan jika dalam grup WhatsApp atau Facebook orang dengan mudah menanggapi isi pesan tanpa membaca utuh, menulis komentar yang tidak menjawab inti persoalan, atau melompat ke kesimpulan sebelum memahami konteks. Yang muncul bukan lagi argumentasi, melainkan impuls.

Sistem penghargaan di otak juga ikut berperan. Berbagai bentuk pengakuan digital – seperti “like”, emoji, komentar, atau balasan cepat – menghadirkan sensasi diterima. Hal ini bukan persoalan sepele. Adam Alter (2017) menunjukkan bahwa teknologi yang dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna dapat membentuk kebiasaan kompulsif. Setiap respons dari publik memberi sedikit suntikan kepuasan. Bila berulang, otak belajar bahwa eksistensi terasa aman ketika mendapat perhatian. Dari sini lahir perilaku yang tampak remeh tetapi dalam: menulis bukan karena sesuatu perlu dikatakan, melainkan karena ingin terlihat ada.

Gejala itu tampak dalam gaya komentar yang menyebar di ruang digital. Ada komentar yang terlalu panjang tetapi tidak punya isi. Ada yang seolah-olah cerdas, namun sebenarnya hanya memamerkan istilah. Ada yang tidak menjawab topik, melainkan mengambil kesempatan untuk menunjukkan diri. Ada pula yang manipulatif: tampak merendah, tetapi sesungguhnya sedang mencari validasi. Dalam jangka panjang, pola ini membentuk otak yang terbiasa dengan kepuasan instan dan kehilangan disiplin untuk berpikir linear, runtut, dan mendalam.

Dalam perspektif psikologi kognitif, manusia membutuhkan kemampuan untuk mengatur perhatian, menahan impuls, dan memproses informasi secara bertahap. Daniel Kahneman (2011) membedakan berpikir cepat dan berpikir lambat. Dunia digital, terutama media sosial, sangat menguntungkan berpikir cepat. Masalahnya, kehidupan bermoral, kehidupan beriman, dan kehidupan berkepribadian matang justru membutuhkan berpikir lambat. Tanpa jeda, tanpa pengendalian diri, dan tanpa kemampuan menunda respons, manusia akan terus didorong menjadi makhluk reaktif. Inilah salah satu sebab mengapa percakapan digital sering bising tetapi tidak memadai; ramai tetapi tidak mencerahkan.

Manusia Post-Truth dan Krisis Kebenaran

Di atas semua itu, ada krisis yang lebih besar: post-truth. Istilah ini merujuk pada suasana ketika fakta objektif kalah oleh emosi, opini, kepentingan identitas, dan pengulangan narasi yang menyenangkan kelompok tertentu. Dalam era post-truth, orang tidak selalu bertanya, “Apakah ini benar?”; yang lebih sering ditanyakan ialah, “Apakah ini cocok dengan keyakinan saya?” atau “Apakah ini membuat kelompok saya tampak unggul?” Ralph Keyes (2004) dan Lee McIntyre (2018) menjelaskan bahwa post-truth bukan sekadar kebohongan biasa, melainkan lingkungan sosial tempat manipulasi persepsi menjadi biasa, sementara verifikasi perlahan kehilangan wibawa.

Media sosial mempercepat kondisi ini. Algoritma cenderung menampilkan konten yang memancing keterlibatan, bukan yang paling akurat. Konten yang emosional lebih cepat menyebar daripada konten yang cermat. Akibatnya, ruang publik digital dipenuhi oleh informasi yang terpotong, disederhanakan, atau dibelokkan demi menarik perhatian. Orang lalu mudah terjebak pada versi realitas yang sesuai dengan preferensi mereka sendiri. Dalam suasana seperti ini, komentar menjadi alat penegasan identitas, bukan alat pencarian kebenaran.

Di sinilah kualitas logika publik menurun. Banyak komentar tidak dimaksudkan untuk memahami persoalan, melainkan untuk menang. Ada yang mengutip tanpa membaca. Ada yang berpendapat tanpa data. Ada yang bereaksi karena tersentuh emosi, bukan karena menguji alasan. Ada pula yang mengangkat isu apa pun hanya untuk meneguhkan posisi diri. Ini adalah gejala post-truth dalam bentuk sehari-hari: kebenaran tidak dibangun, tetapi diperebutkan; bukan untuk dicari, tetapi untuk dimenangkan.

Krisis post-truth juga membuat manusia mudah memanipulasi realitas sosial. Di ruang digital, seseorang bisa tampil lebih baik, lebih pintar, lebih saleh, atau lebih peduli daripada dirinya yang nyata. Identitas menjadi kurasi citra. Erving Goffman (1959) sejak lama menjelaskan bahwa kehidupan sosial mengandung unsur pertunjukan diri. Namun media sosial memperbesar pertunjukan itu secara ekstrem. Kini, yang dipertontonkan bukan hanya wajah, melainkan juga moralitas, pengetahuan, kepedulian, bahkan kesalehan. Dalam banyak kasus, yang dicari bukanlah kebenaran, melainkan pengakuan. Yang penting bukan substansi, melainkan impresi.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved