Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Otak Dangkal di Lautan Digital

Fakta objektif tidak lagi menjadi pusat orientasi publik, melainkan tenggelam oleh emosi, identitas kelompok, algoritma, dan opini yang paling nyaring

Dokumen Pribadi
Hery Mety, alumnus STFSP dan IAIN Manado 

Fenomena ini berbahaya karena perlahan mengubah manusia menjadi makhluk yang lebih sibuk menjaga citra daripada memelihara integritas. Orang tampak peduli, tetapi hanya demi tampak peduli. Orang tampak berwibawa, tetapi sebenarnya sedang memburu penerimaan. Orang tampak tegas, tetapi sesungguhnya sedang mengamankan posisi. Dalam kondisi seperti itu, media sosial menjadi cermin yang memantulkan ego, bukan ruang yang menumbuhkan kebijaksanaan. Dan post-truth memberi tanah subur bagi semua bentuk kepalsuan yang dibungkus kebaikan.

Duc in Altum: Iman, Kesadaran, dan Kedalaman Batin

Di tengah kedangkalan itu, tradisi teologis menawarkan koreksi yang tajam. Seruan duc in altum – “bertolaklah ke tempat yang dalam” (bdk. Luk 5:4) – bukan hanya panggilan spiritual, melainkan juga kritik terhadap hidup yang dangkal. Yohanes Paulus II (2001) memakai seruan ini untuk mendorong Gereja memasuki milenium baru dengan keberanian iman dan kedalaman rohani. Dalam konteks digital hari ini, seruan itu menjadi semakin relevan. Kita dibanjiri informasi, tetapi miskin hikmat. Kita terhubung tanpa henti, tetapi sering kehilangan keheningan. Kita banyak berbicara, tetapi jarang mendengar suara hati.

Dalam tradisi Kristen, kedalaman bukan sekadar intensitas emosi. Kedalaman adalah kemampuan manusia untuk masuk ke pusat dirinya, mengenali kebenaran, dan membiarkan dirinya dibentuk oleh kasih. Paus Fransiskus (2015) berkali-kali menegaskan bahwa dunia modern membutuhkan ekologi integral – yakni keterhubungan yang benar antara manusia, sesama, dan ciptaan. Prinsip ini juga dapat diperluas ke ruang digital: teknologi harus ditempatkan dalam relasi yang sehat dengan martabat manusia. Bila tidak, teknologi akan menjadi sarana pengurasan batin, bukan alat pelayanan.

Penting dicatat bahwa teologi tidak menolak teknologi. Justru sebaliknya, teologi mengingatkan bahwa manusia adalah citra Allah (imago Dei) yang dipanggil untuk mencipta, merawat, dan mengarahkan ciptaan secara bertanggung jawab. Teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, adalah buah dari daya cipta manusia. Tetapi sebagai buah cipta, teknologi tidak boleh menggantikan pencipta. Manusia tetap harus menjadi subjek moral yang otonom. Ia tidak boleh menyerahkan akal budinya pada algoritma, apalagi membiarkan dirinya dibentuk oleh sistem yang didesain untuk mengambil atensi.

Di titik ini, kesadaran diri menjadi latihan rohani sekaligus latihan etis. Ketika seseorang menulis komentar, ia seharusnya bertanya: dari mana dorongan ini datang? Apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sekadar mencari sorotan? Apakah saya sedang membangun, atau sedang menguasai? Apakah saya sedang melayani pembaca, atau sedang memuaskan ego saya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah bentuk askese modern. Ia menuntut jeda, pemeriksaan diri, dan kerendahan hati.

Keheningan adalah bagian dari kedalaman itu. Tanpa keheningan, manusia sulit membedakan antara suara hati dan suara dorongan sesaat. Paus Benediktus XVI sering menekankan pentingnya interioritas – ruang batin tempat manusia bertemu dengan kebenaran tentang dirinya. Dalam dunia yang dibanjiri kebisingan digital, interioritas menjadi barang langka. Orang mudah tahu apa yang sedang terjadi di luar, tetapi tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Ia bisa mengikuti seratus peristiwa, tetapi tak mengenali satu pun kegelisahan batinnya sendiri. Karena itu, jalan pulang manusia digital bukan menambah suara, melainkan memulihkan hening.

Manusia Otonom, Etika Digital, dan Tanggung Jawab Sosio-Antropologis

Krisis digital juga harus dibaca secara sosio-antropologis. Manusia adalah makhluk relasional. Identitasnya dibentuk oleh interaksi, bahasa, ritus, dan pengakuan sosial. Karena itu, media sosial tidak hanya memengaruhi perilaku individual, tetapi juga struktur relasi dalam komunitas. Dalam keluarga, kelompok teman, paroki, organisasi, atau komunitas kerja, grup digital dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif. Namun bila tidak disertai etika, grup tersebut berubah menjadi ruang polarisasi, penyaluran emosi, atau arena perebutan dominasi simbolik.

Pada tingkat komunitas, gaya komentar yang dangkal dan manipulatif menimbulkan beberapa dampak. Pertama, relasi menjadi dangkal karena orang lebih tertarik tampil daripada mendengar. Kedua, kepercayaan menurun karena orang tidak yakin apakah yang dibaca adalah ekspresi jujur atau strategi citra. Ketiga, otoritas pengetahuan menjadi kabur karena semua orang merasa berhak bicara tentang apa saja tanpa disiplin keahlian atau verifikasi. Keempat, solidaritas melemah karena percakapan dipenuhi oleh respons yang tidak memulihkan, melainkan memanaskan.

Karena itu, etika digital tidak boleh dipahami sebagai tambahan sopan santun belaka. Etika digital adalah disiplin kemanusiaan. Ia menuntut kemampuan membedakan mana informasi yang layak diteruskan, mana yang harus diverifikasi, mana yang cukup disimpan, dan mana yang sebaiknya tidak direspons. Ini adalah bentuk otonomi manusia atas teknologi. Manusia yang otonom bukan manusia yang menolak teknologi, melainkan manusia yang mampu menempatkan teknologi dalam batas yang tepat. Ia memakai perangkat digital tanpa diperbudak olehnya.

Kedewasaan digital juga berkaitan dengan solidaritas. Media sosial bisa memperluas kepedulian, tetapi juga bisa mengubah kepedulian menjadi performa. Orang menulis komentar belasungkawa, dukungan, atau keprihatinan bukan karena sungguh tergerak, melainkan karena ingin dianggap baik. Dalam perspektif sosio-antropologis, ini adalah tanda bahwa relasi sosial mulai bergeser dari pertemuan yang tulus menuju pertunjukan moral. Kita tidak lagi bertanya apakah tindakan kita benar, tetapi apakah tindakan kita terlihat benar.

Di sinilah pendidikan nurani menjadi sangat penting. Nurani bukan hanya kemampuan menilai baik-buruk, tetapi kemampuan memeriksa motivasi terdalam. Tanpa nurani yang terlatih, manusia mudah terseret dalam arus post-truth dan narsisisme digital. Ia menjadi sangat sibuk menilai orang lain, tetapi lamban menilai dirinya sendiri. Ia cepat marah atas kesalahan publik, tetapi membiarkan dirinya larut dalam kebiasaan manipulatif yang halus. Padahal kematangan moral justru ditandai oleh kemampuan untuk melihat diri dengan jernih.

Kesadaran diri juga harus berjumpa dengan kesadaran akan orang lain. Orang lain bukan sekadar audiens, bukan sekadar pengikut, bukan sekadar target validasi. Orang lain adalah pribadi yang juga memiliki martabat, luka, kerentanan, dan pengalaman. Komentar digital yang sembrono sering melukai lebih dalam daripada yang disadari penulisnya. Kalimat singkat dapat merendahkan. Sindiran bisa mengeras menjadi kekerasan simbolik. Satu pernyataan manipulatif dapat memicu salah paham yang meluas. Karena itu, berteknologi secara etis berarti mengakui bahwa di balik layar ada manusia yang nyata.

Pada akhirnya, problem teknologi digital bukan pada alatnya, melainkan pada manusia yang menggunakannya. Manusia menciptakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, untuk memperluas kapasitasnya. Tetapi jika kapasitas batin tidak bertumbuh, alat justru akan mendominasi penciptanya. Di tengah dunia yang makin otomatis, manusia justru harus makin manusiawi. Ia harus makin sadar, makin jernih, makin berakar pada kebenaran, dan makin mampu membedakan kehadiran yang autentik dari sekadar penampilan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved