Breaking News
Sabtu, 6 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Rekonstruksi Paradigma di Akhir Ramadhan

Ada beberapa fakta di lapangan yang bisa dilihat untuk menjadi motivasi dalam mengakhiri bulan Ramadhan.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado
SOSOK - Supriadi, S.Ag., M.Pd.I. Ia merupakan Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut. 

Ringkasan Berita:
  • Ada beberapa fakta di lapangan yang bisa dilihat untuk menjadi motivasi dalam mengakhiri Ramadhan.
  • Pertama, bagi sebagian orang, akhir Ramadhan justru ditandai dengan menurunnya semangat ibadah.
  • Ada banyak kesibukan mempersiapkan kebutuhan hari raya, urusan belanja, hingga agenda sosial sering kali menggeser fokus dari ibadah menuju rutinitas duniawi.

 

Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I

(Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut)

Tak bisa dipungkiri, proses penempaan orang-orang beriman dalam bulan Ramadhan sungguh sangat serius. Tentu saja bagi mereka yang tekun dan mengharap ridha Allah semata.

Hal ini karena Ramadhan menjadi sebuah madrasah spiritual yang berlangsung cukup lama dibandingkan ritual ibadah haji, yakni selama sebulan penuh.

Di dalamnya, umat Islam dilatih menata hati, menundukkan hawa nafsu, serta menguatkan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Namun, ketika Ramadhan memasuki fase akhir, muncul sebuah pertanyaan penting: Paradigma apa yang seharusnya dibangun ketika Ramadhan hampir berakhir?

Ada beberapa fakta di lapangan yang bisa dilihat untuk menjadi motivasi dalam mengakhiri Ramadhan.

Pertama, bagi sebagian orang, akhir Ramadhan justru ditandai dengan menurunnya semangat ibadah.

Ada banyak kesibukan mempersiapkan kebutuhan hari raya, urusan belanja, hingga agenda sosial sering kali menggeser fokus dari ibadah menuju rutinitas duniawi.

Padahal dalam perspektif Islam, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual selama sebulan penuh.

Di fase inilah terdapat peluang besar untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Karenanya, paradigma di akhir Ramadhan seharusnya bukanlah paradigma kelelahan, melainkan paradigma puncak dari sebuah perjuangan.

Jika Ramadhan diibaratkan sebuah perlombaan, maka sepuluh malam terakhir adalah garis akhir (Finish line) yang sangat menentukan kemenangan.

Orang yang memahami hakikat ini akan meningkatkan kualitas ibadahnya, memperbanyak doa, memperdalam tilawah Al-Qur’an, serta memperbanyak sedekah dan amal kebaikan lainnya selama Ramadhan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved