Jumat, 15 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Manifesto Mapalus: Menginstal Kembali ‘Teknologi Sosial Purba’ Minahasa di Era Digital

Di era digital yang penuh dengan keterasingan sosial, Mapalus adalah teknologi yang perlu kita "instal" kembali.

Tayang:
Kolase
OPINI - Tulisan opini oleh Prof. Dr. Jeffry Sony Junus Lengkong, M.Pd. Manifesto Mapalus: Menginstal Kembali ‘Teknologi Sosial Purba’ Minahasa di Era Digital. 

Ringkasan Berita:
  • Mapalus adalah cara Tou Minahasa menyelaraskan diri dengan detak jantung alam semesta.
  • Mapalus sebagai teknologi sosial purba bersifat autopoietic. 
  • Di era digital yang penuh dengan keterasingan sosial, Mapalus adalah teknologi yang perlu kita "instal" kembali.

Oleh: 
Prof. Dr. Jeffry Sony Junus Lengkong, M.Pd

SELAMA ini, kita terjebak memandang Mapalus hanya sebagai warisan romantis masa lalu sebuah tradisi gotong royong yang perlahan terkikis zaman. 

Namun, setelah melakukan perenungan mendalam dan rekonstruksi ontologis, saya mengajukan tesis baru yang mungkin terdengar radikal: Mapalus bukanlah sekadar tradisi; ia adalah sebuah Teknologi Sosial Purba (Ancient Social Technology). Konstruksi berpikir ini berdiri kokoh di atas pundak para raksasa filsafat dunia. 

Ketika Herakleitus (2021) berbicara tentang Logos sebagai hukum universal atau Spinoza (1994) merenungkan kesatuan substansi alam semesta, mereka sedang memetakan "interkonektivitas" yang sama. 

Bahkan, dalam kacamata modern Heidegger (1962) Mapalus dapat dilihat sebagai bentuk Sorge (peduli/kepedulian) yang mewujud dalam Mitsein (ada-bersama-orang-lain). 

Di sisi lain, Deleuze & Guattari (1998) mungkin akan melihat Mapalus sebagai Assemblage sebuah mesin sosial yang menghubungkan berbagai hasrat individu menjadi kekuatan kolektif yang produktif.

Namun, di sinilah keunikan Tou Minahasa. Jika para filosof Barat cenderung berhenti pada perenungan kontemplatif, maka leluhur kita melakukan lompatan radikal: mereka men-teknologi-kan filsafat tersebut. 

Mereka tidak hanya merenungkan interkonektivitas semesta, mereka merancangnya menjadi instruksi praktis-operasional. 

Mapalus adalah algoritma sosial asli yang mendahului era digital. Ia adalah bukti bahwa metafisika bisa membumi dan memiliki "mesin" operasional untuk menggerakkan peradaban.

Melalui pendekatan Metafisika Terapan (Applied Metaphysics) yang diciptakan oleh leluhur Tou Minahasa, Mapalus tidak lagi membutuhkan data statistik untuk membuktikan kehebatannya. 

Sebab, kebenarannya bersifat aksiomatik terlihat dari bagaimana mikrokosmos atom hingga makrokosmos galaksi bekerja dalam prinsip interkonektivitas yang sama. 

Mapalus adalah cara Tou Minahasa menyelaraskan diri dengan detak jantung alam semesta. Mapalus sebagai teknologi sosial purba bersifat autopoietic. 

Artinya, ia adalah sistem yang memiliki kemampuan untuk memproduksi dan mempertahankan dirinya sendiri. 
Inilah alasan mengapa Mapalus tidak punah dimakan zaman; karena ia adalah teknologi yang "hidup". 

Banyak yang bertanya, mengapa saya menyebut-nyabut istilah “Teknologi Sosial Purba” dan bukan sekadar “Teknologi Sosial”? Ini bukan soal permainan kata, melainkan sebuah klaim intelektual yang fundamental.

Pertama, menghindari jebakan anakronisme. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved