Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Ketika Rasio Menjadi Sunyi: In Memoriam Jürgen Habermas

Habermas adalah penjaga sebuah harapan lama: bahwa rasionalitas masih mungkin menjadi fondasi kehidupan bersama.

Tribun Manado
In Memoriam Jürgen Habermas 

Oleh: 
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado

ADA masa dalam sejarah ketika kata-kata dipercaya mampu menyelamatkan dunia. Bukan kata-kata yang berteriak dari mimbar propaganda, melainkan kata-kata yang diuji dalam percakapan rasional – kata-kata yang berusaha memahami sebelum menghakimi. Filsafat lahir dari keyakinan sederhana itu: bahwa manusia dapat bertemu sebagai sesama subjek yang setara, berbicara, berdebat, dan akhirnya menemukan kebenaran bersama. Namun zaman modern berkali-kali memperlihatkan bahwa keyakinan itu rapuh.

Ketika kabar wafatnya Jürgen Habermas pada 14 Maret 2026 tersiar, dunia intelektual seakan kehilangan salah satu penjaga terakhir dari keyakinan tersebut. Ia bukan sekadar seorang filsuf besar. Ia adalah penjaga sebuah harapan lama: bahwa rasionalitas masih mungkin menjadi fondasi kehidupan bersama.

Habermas meninggal pada usia 96 tahun – usia yang hampir melintasi seluruh tragedi dan harapan abad modern. Ia lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf, Jerman, pada masa ketika Eropa sedang berjalan menuju kegelapan politik yang kelak mencapai puncaknya dalam kekuasaan Adolf Hitler dan kehancuran kemanusiaan selama Perang Dunia II.

Generasinya menyaksikan sebuah paradoks yang mengguncang fondasi modernitas: rasionalitas yang dahulu dipuja sebagai pembebas manusia justru dapat berubah menjadi mesin kehancuran. Birokrasi modern, teknologi industri, dan administrasi negara yang efisien ternyata dapat bekerja dengan sempurna bahkan ketika memproduksi kekejaman yang tak terbayangkan. Dari pengalaman sejarah itulah lahir proyek intelektual Habermas: bagaimana menyelamatkan rasionalitas tanpa mengulangi barbarisme modernitas.

Rasionalitas yang Berbicara

Habermas tumbuh dalam tradisi Frankfurt School, sebuah mazhab filsafat kritis yang berusaha memahami kegagalan proyek Pencerahan. Para pendahulunya – seperti Max Horkheimer dan Theodor W Adorno – menyimpulkan bahwa rasionalitas modern telah mengalami degenerasi menjadi rasionalitas instrumental: logika efisiensi yang menilai segala sesuatu hanya dari kegunaannya.

Dalam pandangan ini, rasionalitas tidak lagi membebaskan manusia, melainkan justru memperhalus mekanisme dominasi.

Namun Habermas menolak menyerah pada pesimisme tersebut. Ia percaya bahwa rasionalitas tidak sepenuhnya hilang dari dunia modern. Ia masih hidup dalam sesuatu yang sangat sederhana tetapi fundamental: bahasa manusia.

Setiap kali manusia berbicara satu sama lain dengan tujuan mencapai pengertian bersama, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan rasionalitas yang berbeda – rasionalitas yang tidak bertujuan menguasai, tetapi memahami. Habermas menyebutnya rasionalitas komunikatif. Konsep inilah yang kemudian menjadi pusat seluruh filsafat sosialnya.

Demokrasi sebagai Percakapan

Gagasan Habermas tentang demokrasi berakar pada karya klasiknya, The Structural Transformation of the Public Sphere. Dalam buku tersebut ia menelusuri sejarah munculnya ruang publik modern di Eropa abad ke-18, ketika warga negara mulai berkumpul di salon intelektual, kedai kopi, dan surat kabar untuk mendiskusikan urusan bersama (Habermas, 1962/1989). Di ruang-ruang itulah demokrasi pertama kali menemukan bentuk kulturalnya.

Ruang publik bukan sekadar tempat berbicara. Ia adalah arena di mana argumen lebih penting daripada kekuasaan. Status sosial, kekayaan, dan jabatan tidak menentukan kebenaran suatu pendapat; yang menentukan hanyalah kekuatan alasan. Dengan kata lain, demokrasi tidak pertama-tama hidup dalam institusi negara, melainkan dalam percakapan warga.

Namun Habermas juga menyadari bahwa ruang publik modern mengalami transformasi yang problematis. Ketika media massa berkembang menjadi industri besar, diskusi rasional perlahan berubah menjadi komunikasi strategis yang dirancang untuk mempengaruhi opini publik.

Warga tidak lagi diperlakukan sebagai peserta deliberasi, melainkan sebagai audiens yang harus diyakinkan. Apa yang dahulu merupakan ruang percakapan warga perlahan berubah menjadi pasar opini.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved