Opini
Beda Hari, Jangan Beda Hati: Bijaksana di Tengah Perbedaan Awal Ramadan
Kita boleh berbeda dalam memulai puasa, namun jangan berbeda dalam menjaga ukhuwah.
Perbedaan dalam Perspektif Teori Sosial
Dari sudut pandang teori sosial, perbedaan merupakan keniscayaan dalam masyarakat majemuk. Peter L. Berger (1990) menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses konstruksi dan interpretasi kolektif.
Apa yang kita anggap benar sering kali merupakan hasil dari tradisi pengetahuan yang kita anut. Sementara Jurgen Habermas (1984) menekankan pentingnya ruang dialog rasional dalam ruang publik agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.
Dalam konteks ini, perbedaan awal Ramadan semestinya menjadi ruang edukasi tentang kedewasaan beragama, bukan arena polarisasi.
Ia adalah praktik sosial yang lahir dari sistem pengetahuan yang berbeda, bukan pertarungan kebenaran mutlak. Kedewasaan terlihat bukan ketika semua sepakat, melainkan ketika perbedaan dapat dikelola tanpa merusak persaudaraan.
Moderasi Beragama dalam Konteks Manado
Di Manado, masyarakat hidup dalam keberagaman agama dan budaya. Spirit “Torang Samua Basudara” telah menjadi fondasi kohesi sosial. Umat Islam terbiasa berdampingan secara harmonis dengan saudara-saudara dari agama lain, merayakan perbedaan dalam suasana saling menghormati.
Jika dalam keberagaman lintas iman kita mampu menjaga persaudaraan, maka dalam perbedaan internal penetapan awal Ramadan seharusnya kita lebih mudah bersikap arif.
Perbedaan metode bukan ancaman bagi persatuan, selama kita tidak membiarkannya berubah menjadi perpecahan emosional.
Sebagai akademisi di IAIN Manado, saya melihat momentum ini sebagai bagian dari pendidikan moderasi beragama.
Moderasi bukan berarti melemahkan keyakinan atau mencairkan prinsip. Sebaliknya, ia menuntut kedewasaan intelektual dan keluasan hati: teguh dalam prinsip, tetapi lapang dalam perbedaan.
Ramadan: Madrasah Pengendalian Diri
Ramadan adalah madrasah spiritual. Ia tidak hanya melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, amarah, dan klaim kebenaran yang berlebihan. Ironis jika bulan yang mengajarkan pengendalian diri justru menjadi ruang mempertajam sentimen.
Beda hari adalah konsekuensi metodologi. Tetapi beda hati adalah pilihan. Kita boleh berbeda dalam memulai puasa, namun jangan berbeda dalam menjaga ukhuwah.
Pada akhirnya, ukuran keberagamaan kita bukan pada siapa yang lebih dahulu memulai puasa, melainkan pada sejauh mana kita mampu menjaga kedamaian sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Beda-Hari-Jangan-Beda-Hati-Bijaksana-di-Tengah-Perbedaan-Awal-Ramadan.jpg)