Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Isra Mi’raj

Memaknai Isra Mi’raj untuk Kerukunan dan Ekoteologi

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa pengalaman tertinggi dengan Tuhan tidak membuat manusia menjauh dari dunia.

Kolase
ISRA MIRAJ - Memaknai Isra Mi’raj untuk Kerukunan dan Ekoteologi. Oleh: Dr. Drs. KH. Ulyas Taha, M.Pd (Kepala Kanwil Kemenag Sulut).  

Ringkasan Berita:
  • Isra Mi’raj mengajarkan, pengalaman tertinggi dengan Tuhan tidak membuat manusia menjauh dari dunia, melainkan kembali dengan beban tanggung jawab lebih besar.
  • Di Indonesia secara khusus di Sulawesi Utara, tanggung jawab itu bernama kerukunan, cinta kemanusiaan, dan kepedulian ekologis.
  • Dari langit ke bumi itulah arah spiritualitas yang relevan hari ini. Jika tidak, Isra Mi’raj akan tinggal sebagai kisah agung yang kehilangan gema sosialnya, dan agama akan tereduksi menjadi ritus tanpa daya ubah

Oleh: Dr. Drs. KH. Ulyas Taha, M.Pd
(Kepala Kanwil Kemenag Sulut)

DI sebuah negeri yang langitnya kerap dipenuhi doa, tetapi buminya masih sering diguncang prasangka, peristiwa Isra Mi’raj tidak semestinya berhenti sebagai kisah perjalanan spiritual yang dibaca setahun sekali. 

Ia adalah undangan untuk menata ulang cara beriman di ruang publik: bagaimana manusia berhubungan dengan sesama dan dengan alam. 

Dari Sidratul Muntaha hingga lorong-lorong kampung di Manado, pesan Isra Mi’raj menuntut aktualisasi etis bahwa kedekatan dengan Tuhan harus berbanding lurus dengan kedewasaan sosial dan tanggung jawab ekologis.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, serta Sulawesi Utara yang dikenal sebagai “laboratorium kerukunan”, peringatan Isra Mi’raj menemukan relevansinya yang paling konkret: sebagai fondasi spiritual bagi penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, sekaligus penggerak etika ekoteologis yang kian mendesak di tengah krisis lingkungan.

Isra Mi’raj: Spiritualitas yang Bergerak ke Ruang Sosial

Isra Mi’raj merupakan peristiwa transenden yang menandai dimensi terdalam pengalaman keagamaan Nabi Muhammad SAW: perjalanan horizontal (Isra) dan vertikal (Mi’raj). 

Dalam tradisi Islam, peristiwa ini melahirkan perintah salat ritual yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membentuk disiplin moral dan kesadaran sosial (Nasr, 2003).

Namun, sejarah menunjukkan bahwa spiritualitas yang otentik tidak pernah mandek di langit. Ia selalu kembali ke bumi sebagai etos hidup. Al-Ghazali menekankan bahwa ibadah sejati harus tercermin dalam akhlak sosial: kejujuran, empati, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia (Al-Ghazali, 2015). 

Dengan demikian, Isra Mi’raj tidak hanya meneguhkan relasi manusia dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga memperdalam relasi antarmanusia (hablum minannas) dan relasi dengan alam (hablum minal ‘alam).

Di sinilah urgensi pemaknaan ulang Isra Mi’raj di era modern: menjadikannya sumber etika publik yang menolak kekerasan, diskriminasi, dan perusakan lingkungan.

Kerukunan sebagai Agenda Teologis, Bukan Sekadar Sosial

Kerukunan sering dipahami sebatas proyek sosial atau urusan administratif negara. Padahal, dalam perspektif teologis, kerukunan adalah mandat keimanan. 

Al-Qur’an menyebut manusia sebagai makhluk berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling meniadakan (QS. Al-Hujurat: 13). Tafsir klasik dan kontemporer sepakat bahwa pluralitas merupakan kehendak ilahi (sunnatullah) (Rahman, 1989).

Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui program prioritas “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan”, sesungguhnya sedang menerjemahkan mandat teologis ini ke dalam kebijakan publik. Kerukunan tidak lagi diposisikan sebagai slogan, melainkan sebagai infrastruktur sosial bangsa.

Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved