Opini
Perjalanan yang Tak Terlupakan
Semoga semangat kebaikan yang saya alami di Kotamobagu ini dapat menular ke banyak orang.
Keputusan bulat diambil: kami harus berbalik arah. Perjalanan menuju Manado tertunda, berganti dengan rute balik menuju Kotamobagu yang memakan waktu sekitar 2,5 jam.
Meski lelah mulai terasa, ada secercah harapan yang membuat perjalanan panjang itu tidak terasa sia-sia.
Sepanjang jalan kembali, saya banyak terdiam dan merenung. Bayangan akan data-data penting, kontak kerja, dan foto-foto bernilai yang ada di dalam ponsel tersebut membuat saya menyadari betapa berharganya kejujuran.
Di tengah dunia yang sering kali dianggap penuh ketidakpedulian, ternyata masih ada orang-orang jujur.
Dua setengah jam berlalu, dan kami kembali menginjakkan kaki di rumah makan tersebut. Senyum tulus dari staf rumah makan menyambut kami.
Saat ponsel itu berpindah kembali ke tangan saya, rasanya lebih dari sekadar mendapatkan kembali sebuah alat komunikasi; saya baru saja mendapatkan kembali kepercayaan saya pada kebaikan manusia.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sekeluarga. Rasa panik yang sempat menguasai diri kini berganti dengan rasa syukur yang mendalam.
Kami menyadari bahwa kebaikan bukan sekadar konsep abstrak, melainkan tindakan nyata yang bisa menyelamatkan hari seseorang.
Saya percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana yang menjunjung tinggi integritas. Kejadian ini memperkuat keyakinan saya bahwa dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih indah jika setiap orang memiliki rasa tanggung jawab dan empati yang sama terhadap sesama.
Semoga semangat kebaikan yang saya alami di Kotamobagu ini dapat menular ke banyak orang.
Mari kita berharap agar setiap barang yang hilang dapat segera menemukan jalan pulangnya, dan setiap tindakan jujur menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik tanpa pamrih. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-oleh-Odemus-Bei-Witono-Foto.jpg)