Opini
Perjalanan yang Tak Terlupakan
Semoga semangat kebaikan yang saya alami di Kotamobagu ini dapat menular ke banyak orang.
Ringkasan Berita:
- Tulisan opini oleh Odemus Bei Witono.
- Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan.
- Perjalanan yang Tak Terlupakan
Oleh :
Odemus Bei Witono
(Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan)
DI Tahun Baru 2026, roda kendaraan berputar stabil menyusuri aspal yang membelah rimbunnya pepohonan Sulawesi Utara.
Pagi itu, semangat kami meluap-luap saat meninggalkan Kotamobagu bersama keluarga adik bungsu.
Tujuan kami, yakni Manado, sebuah perjalanan yang seharusnya penuh dengan tawa dan rencana menyenangkan di ujung aspal.
Obrolan hangat dan candaan mengisi ruang kabin mobil, membuat jarak seolah tidak berarti. Kami baru saja menikmati hidangan lezat di sebuah rumah makan di Kotamobagu sebelum berangkat, mengisi tenaga untuk menempuh perjalanan beberapa jam ke depan. Segalanya terasa sempurna dan terkendali.
Namun, suasana tenang itu pecah seketika saat kendaraan kami mulai memasuki wilayah Minahasa Selatan (Minsel). Secara refleks, tangan saya meraba saku dan tas, mencari benda pipih yang menjadi jendela dunia sekaligus penyimpan memori: ponsel saya.
Detik itu juga, jantung saya seakan berhenti berdetak karena benda tersebut tidak ada di sana.
Kepanikan mulai menjalar ke seluruh tubuh. Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali memegangnya.
Bayangan meja kayu di rumah makan tempat kami berhenti tadi tiba-tiba melintas dengan jelas. Ya, ponsel itu tertinggal di sana, tergeletak bisu di tengah keriuhan pelanggan yang datang dan pergi.
Adik saya segera menepikan mobil. Di pinggir jalan Minsel yang asing, kami berdiskusi dengan raut wajah tegang.
Tanpa membuang waktu, kami mencoba menghubungi nomor ponsel saya menggunakan telepon lain.
Setiap nada sambung yang terdengar terasa seperti detak jam yang sangat lambat, penuh dengan ketidakpastian. Komunikasi via hp tidak tersambung.
Keajaiban kecil itu pun terjadi, setelah kami menghubungi pihak rumah makan.
Di seberang telepon, suara ramah dari pengelola rumah makan menyahut.
Dengan nada tenang, mereka mengonfirmasi bahwa ponsel saya ditemukan dan disimpan dengan aman oleh pihak rumah makan. Perasaan lega yang luar biasa seketika menyapu bersih rasa sesak di dada saya.
Keputusan bulat diambil: kami harus berbalik arah. Perjalanan menuju Manado tertunda, berganti dengan rute balik menuju Kotamobagu yang memakan waktu sekitar 2,5 jam.
Meski lelah mulai terasa, ada secercah harapan yang membuat perjalanan panjang itu tidak terasa sia-sia.
Sepanjang jalan kembali, saya banyak terdiam dan merenung. Bayangan akan data-data penting, kontak kerja, dan foto-foto bernilai yang ada di dalam ponsel tersebut membuat saya menyadari betapa berharganya kejujuran.
Di tengah dunia yang sering kali dianggap penuh ketidakpedulian, ternyata masih ada orang-orang jujur.
Dua setengah jam berlalu, dan kami kembali menginjakkan kaki di rumah makan tersebut. Senyum tulus dari staf rumah makan menyambut kami.
Saat ponsel itu berpindah kembali ke tangan saya, rasanya lebih dari sekadar mendapatkan kembali sebuah alat komunikasi; saya baru saja mendapatkan kembali kepercayaan saya pada kebaikan manusia.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sekeluarga. Rasa panik yang sempat menguasai diri kini berganti dengan rasa syukur yang mendalam.
Kami menyadari bahwa kebaikan bukan sekadar konsep abstrak, melainkan tindakan nyata yang bisa menyelamatkan hari seseorang.
Saya percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana yang menjunjung tinggi integritas. Kejadian ini memperkuat keyakinan saya bahwa dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih indah jika setiap orang memiliki rasa tanggung jawab dan empati yang sama terhadap sesama.
Semoga semangat kebaikan yang saya alami di Kotamobagu ini dapat menular ke banyak orang.
Mari kita berharap agar setiap barang yang hilang dapat segera menemukan jalan pulangnya, dan setiap tindakan jujur menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik tanpa pamrih. (*)
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
| Catatan Seorang Jurnalis: We Shall Overcome |
|
|---|
| Dari Prestasi ke Dampak: Menguji Arah Baru Digitalisasi Daerah |
|
|---|
| Paskah dari Staurosimon ke Anastasimon, Keniscayaan Kehidupan Kekal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-oleh-Odemus-Bei-Witono-Foto.jpg)