Opini
Pesan Natal KWI dan PGI: Allah di Rumah Kita
Natal tahun ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak menyelamatkan keluarga dari jauh. Ia hadir dalam kegelisahan mereka.
Namun keselamatan yang dibawa Yesus bukan berarti keluarga tidak akan mengalami konflik. Keselamatan bukan obat penenang, melainkan keberanian untuk berubah. Keluarga diselamatkan bukan oleh mukjizat instan, tetapi oleh pilihan-pilihan kecil yang setia. José Granados (2016), seorang teolog Katolik kontemporer, menyebut keluarga sebagai tempat “karakter eskatologis” manusia—tempat di mana kasih yang kekal mulai dilatih dalam bentuk yang paling sederhana: berbagi, mendengarkan, memperhatikan, saling menopang.
Natal mengingatkan bahwa Jabatan Orangtua bukan profesi, melainkan panggilan. Keluarga bukan beban, melainkan persekutuan cinta yang membutuhkan keberanian untuk terus dibentuk. Allah telah masuk ke dalam sebuah rumah, sebuah keluarga. Artinya, rumah mana pun dapat menjadi tempat kehadiran Allah jika keluarga membuka diri kepada kasih-Nya.
Pada akhirnya, pesan Natal 2025 adalah undangan untuk mengembalikan keluarga ke pusat kehidupan rohani dan sosial. Gereja tidak bisa menyelamatkan dunia jika ia tidak terlebih dahulu menyelamatkan keluarga. Masyarakat tidak akan mencapai keadilan jika ia mengabaikan keluarga. Sekolah, negara, perusahaan, dan teknologi tidak dapat menggantikan fungsi keluarga. “Keluarga,” tulis John Paul II (1994), “adalah masa depan dunia.” Dan dunia tidak dapat memiliki masa depan jika keluarga tidak diselamatkan.
Allah hadir, tetapi kehadiran-Nya membutuhkan ruang. Allah datang untuk menyelamatkan, tetapi keselamatan itu membutuhkan kerja sama manusia. Ketika keluarga mulai berbicara kembali, mulai mendengar kembali, mulai saling menerima kembali, mulai berdoa kembali, mulai saling memeluk kembali – di situlah kehadiran Allah menemukan rumah-Nya.
Natal adalah deklarasi bahwa Allah tidak mencari rumah di istana, tetapi di tengah keluarga yang berjuang. Bethlehem bukan tempat sempurna. Keluarga Maria dan Yusuf bukan keluarga tanpa masalah. Tetapi di sanalah Allah memilih tinggal. Dan di sanalah Ia terus ingin tinggal – di tengah keluarga kita, dengan segala luka dan kerinduannya.
Seluruh dunia dapat berubah, tetapi jika keluarga diselamatkan, harapan tidak pernah padam. Natal mengajak kita untuk tidak hanya melihat bintang di langit, tetapi untuk melihat Cahaya itu masuk ke rumah kita, menyentuh hati kita, memulihkan relasi kita, dan menjadikan keluarga kita ruang keselamatan yang hidup. Sebab di situlah Allah ingin hadir—bukan di tempat lain, tetapi di rumah kita. (*)
Pesan Natal
Konferensi Waligereja Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Natal
inkarnasi
Herkulaus Mety
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Lirik-Lagu-Hai-Kota-Mungil-Betlehem-Kidung-Jemaat-No-94.jpg)