Opini
William Shakespeare dan Chen Shou: Perspektif Sejarah Leluhur Minahasa Versi Weliam H Boseke
Ada beberapa kemiripan antara Langley dan Boseke yakni perjuangan mereka yang gigih dan tulus dengan ketekunan seorang peneliti dan intuisi tajam.
Oleh: Stefi Rengkuan
Anggota Dewan Pembina DPP Kerukunan Keluarga Kawanua
Anggota Dewan Pengawas YPKM
Admin Kawanua Informal Meeting
KEMARIN saya akhirnya selesai menonton ringkasan film yang diposting dalam grup WA Alumni Pineleng oleh seorang praktisi komunikasi dan master public speaking. Ringkasan film itu ada di kanal Youtube bernama AKIYAMO, yang spesial mengangkat film-film berdasarkan kisah nyata, dijuduli "Saat Seorang Amatir Membungkam Para Ilmuwan".
Film itu dirilis pada 2022 dan disutradarai oleh Stephen Frears, berkisah tentang pencarian seorang amatir sekitar 2011 di Edinburg, terkait sejarah raja Richard III yang dilupakan bahkan bukan saja namanya jelek tapi kuburannya pun pernah menghilang karena Raja Henry VII dari keluarga Tudor yang menang itu kemudian menghancurkan biara-biara termasuk kuburan raja Richard III.
Film The Lost King memang diangkat dari kisah nyata penemuan makam Raja Richard III di bawah sebuah tempat parkir di Leicester, Inggris. Philippa Langley, seorang amatir sejarah, berperan penting dalam proyek "Looking For Richard" dan berhasil mengumpulkan dana untuk penggalian. Timnya kemudian menemukan kerangka yang diyakini sebagai Raja Richard III, yang memiliki kelainan tulang dan luka di tengkorak sesuai catatan sejarah. Penemuan ini mengubah pemahaman sejarah tentang Raja Richard III.
Menariknya, awal pencarian Langley justru pada saat menonton pertunjukan teater tentang Richard III berdasarkan karya sastrawan besar William Shakespeare. Langley melihat ada hal yang janggal karena naskah Shakespeare ditulis sekitar 100 tahun sesudah kematian Henry III, dan pada saat naskah itu ditulis Inggris sedang di bawah kuasa keluarga Tudor. Langley mencurigai intervensi politik yang memengaruhi naskah resmi pada waktu itu.
Jarak 100 tahun yang disebutkan dalam film itu mungkin tidak tepat. Richard III meninggal pada 1485, sedangkan drama Shakespeare "Richard III" diperkirakan ditulis sekitar 1591-1594. Jadi, jarak waktu antara kematian Richard III dan penulisan drama Shakespeare adalah sekitar 106-109 tahun.
Shakespeare menulis dramanya pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, yang merupakan cucu dari Henry Tudor (Henry VII), pendiri Dinasti Tudor yang mengalahkan Richard III dalam Pertempuran Bosworth Field pada 1485. Dinasti Tudor memiliki kepentingan untuk menggambarkan Richard III secara negatif, dan karya Shakespeare mungkin dipengaruhi oleh pandangan ini.
Nah, secara lugas Frans Budi Santika yang mengirimkan channel Youtube film di atas menambahkan komentar yang menghubungkan film biografis ini dengan pencarian Weliam Henry Boseke tentang leluhur Minahasa. Katanya, "Film yang sangat menyentuh. Saya segera teringat pada Weliem Boseke yang giat menggali sejarah leluhur Minahasa. Semoga ia mendapatkan ending serupa dengan Langley."
Bagi dia, ada beberapa kemiripan. Bukan sekadar tentang latar amatir Langley dan Boseke, yang bukan akademisi kampus, tapi juga perjuangan mereka yang gigih dan tulus dengan ketekunan seorang peneliti dan intuisi tajam yang diberkahi karunia roh alam semesta. Dan tentu saja pada akhirnya hasil dan isi temuan mereka sendiri yang bisa difalsifikasi dan diverifikasi oleh peneliti akademis jua, walaupun perlu dicatat juga bahwa tidak semua temuan itu mesti dipaksakan melalui laboratorium ala kampus atau metode baku belaka, bahkan sejatinya satu temuan bisa menendang seribu teori apalagi sekadar keyakinan atas teks sejarah yang bisa jadi bias kepentingan atau mungkin mengalami sejumlah kekurangan dan kekeliruan, ada distorsi bahkan delesi dalam proses penulisannya. Belum lagi soal tafsir atas sebuah entitas, teks kuno maupun konteks yang melingkupinya dan si pembaca itu sendiri.
Santika yang menghabiskan waktu sekitar 7 tahun di tanah Minahasa dan sekitar, walau lahir besar di kota metropolitan Jakarta, menambahkan sebuah harapan yang menggelitik: "Semoga semakin jelas dan terang dan didukung oleh pemerintah dan dunia akademik." Ya, sejauh yang saya ikuti, semakin banyak yang menerima tesis buku ini, dari pelbagai kalangan termasuk intelektual dan akademisi, dan makin sedikit pihak yang resisten dengan alasan emosional ideologis tertentu daripada intelektual murni dan common sense masyarakat kebanyakan yang terbuka dan kritis atas sebuah temuan baru yang orisinil.
Dan Santika mungkin sudah membaca edisi kedua buku Boseke (2024) yang sudah memasukkan referensi dan penjelasan dua karya klasik tentang Perang Tiga Negara atau San Guo/Sam Kok sebagai perang terbesar dalam sejarah peradaban China pada awal abad ke-3 Masehi, yang menjadi konteks sejarah asal usul leluhur Minahasa.
Buku pertama adalah Records of the Three Kingdoms (Sanguozhi) karya Chen Shou pada abad ke-3. Buku ini merupakan catatan sejarah resmi yang ditulis berdasarkan dokumen-dokumen sejarah dan pengalaman pribadi. Namun, karena Chen Shou hidup dalam masa dinasti Shu, dinasti Wei dan dinasti Jin, ada kemungkinan bahwa penulisannya dipengaruhi oleh perspektif pemenang.
Nah, buku kedua Romance of the Three Kingdoms (Sanguozhi Yanyi) karya Luo Guanzhong pada abad ke-14. Buku ini merupakan novel sejarah yang bersumber dari catatan sejarah sebelumnya, termasuk Records of the Three Kingdoms, dan drama-drama klasik yang dibumbuhi sedikit elemen fiksi dan romantisisme untuk membuatnya lebih menarik.
Secara linguistik, menurut Boseke, buku kedua judul San GuoYan Yi itu seharusnya diterjemahkan "Pembeberan Kebenaran tentang Tiga Kerajaan". Menurutnya, versi Inggris Moss Roberts yaitu Three Kingdoms lebih mendekati kebenaran dibanding CH Brewitt Taylor dengan terjemahan bebasnya yaitu Romance of the Three Kingdoms nampaknya telah mengelirukan sementara pihak yang menilai buku kedua ini tidak lebih sebagai karya fiksi belaka daripada sebuah novel berbasis data sejarah yang lebih lengkap dan benar.
Biarlah para sejarawan yang membuktikannya dalam ruang dan waktu jua. Yang jelas dan terang adalah bahwa Luo Guanzhong bermaksud untuk memberikan perspektif yang lebih seimbang dan mengungkapkan kebenaran tentang sejarah Tiga Kerajaan, yang mungkin tidak sepenuhnya tercermin dalam catatan sejarah resmi awal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Weliam-Boseke-dan-Stefi-Rengkuan.jpg)