Jumat, 8 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Santri 2025

Santri dan Peradaban Dunia: Moderasi dan Inovasi untuk Kemanusiaan 

Santri bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi arsitek moral dan intelektual bangsa; bukan sekadar penghafal kitab,

Tayang:
Kolase/HO
KAKANWIL - Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd (Kakanwil Kemenag Sulut). Santri dan Peradaban Dunia: Moderasi dan Inovasi untuk Kemanusiaan.  

Oleh: 
Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd (Kakanwil Kemenag Sulut)

DI tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, ketegangan identitas, dan krisis nilai yang membelah masyarakat, Hari Santri 2025 hadir sebagai refleksi mendalam tentang peran strategis santri dalam menegakkan moderasi beragama dan inovasi sosial. 

Santri bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi arsitek moral dan intelektual bangsa; bukan sekadar penghafal kitab, tetapi agen peradaban yang mampu menjembatani nilai lokal dan tantangan global. 

Moderasi bukan kata netral, melainkan keberanian berpikir kritis, bersikap etis, dan bertindak inklusif; inovasi bukan sekadar penciptaan teknologi, tetapi kemampuan menyintesiskan ilmu, iman, dan kemanusiaan. 

Hari Santri, dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya tercermin dalam batas wilayah, tetapi dalam kapasitas bangsa untuk berkontribusi bagi umat manusia (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, 1980; Al-Farabi, Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah, 1995; Hasyim Asy’ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, 1925).

Filosofi pendidikan santri menekankan keseimbangan antara ilmu, moralitas, dan spiritualitas. Al-Farabi menegaskan bahwa masyarakat utama lahir dari integrasi akal dan nilai ilahiah (Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah, 1995), sementara Al-Ghazali menyatakan bahwa kebijaksanaan lahir dari keseimbangan akal dan hati (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, 1980). 

Dalam konteks Indonesia, pesantren menjadi laboratorium filsafat praksis, di mana ilmu dan iman berinteraksi untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan bermartabat (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015). 

KH. Ahmad Dahlan menekankan bahwa iman tanpa amal sosial hanyalah kesalehan kosong (Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah, 1912), sedangkan Ibn Miskawayh menggarisbawahi akhlak al-karimah sebagai landasan kebahagiaan kolektif (Ibn Miskawayh, Tahzib al-Akhlaq, 1030). 

Nilai-nilai ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah sekadar sikap tengah, tetapi integrasi etika, akal, dan spiritualitas.

Hari Santri mengingatkan pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama. Fatwa ini bukan hanya dokumen politik, tetapi refleksi filosofis tentang hubungan agama dan negara (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah, 1926). 

KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ilmu dan perjuangan adalah dua sisi dari satu pengabdian (Hasyim Asy’ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, 1925). Perjuangan santri menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan lemah atau pasif, tetapi aktif dan rasional dalam melindungi kemanusiaan. 

Sejak abad ke-20, pesantren juga menjadi pusat kritik sosial yang melahirkan ulama dan tokoh intelektual yang mampu menengahi konflik politik dan sosial, seperti KH. Abdurrahman Wahid, yang menekankan pluralisme dan penghormatan terhadap perbedaan (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006).

Dari perspektif antropologi, santri merupakan entitas budaya yang adaptif. Clifford Geertz menyebut pesantren sebagai sistem kebudayaan yang menggabungkan Islam, tradisi lokal, dan nilai moral (Geertz, The Religion of Java, 1960), sementara Bourdieu menjelaskan pesantren sebagai habitus, tempat nilai-nilai dibiasakan, bukan sekadar diajarkan (Bourdieu, Outline of a Theory of Practice, 1977). Homi K. 

Bhabha menekankan bahwa identitas budaya bersifat dinamis dan hybrid (The Location of Culture, 1994), sehingga santri bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, lokal dan global. 

Di era digital, santri modern memanfaatkan literasi digital, konten dakwah kreatif, podcast pendidikan Islam, literasi media, dan gerakan filantropi online. Pesantren bukan lagi ruang tertutup, tetapi laboratorium inovasi sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015).

Santri harus membangun kesadaran kritis agar tidak hanya menjadi pengikut tradisi, tetapi subjek sejarah. Paulo Freire menekankan pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar hafalan (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970). 

Santri yang kritis mampu melawan ketidakadilan baru: kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, eksploitasi digital, hingga politik otoriter. KH. Sahal Mahfudz menegaskan bahwa fiqh harus menjadi instrumen transformasi sosial (Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqih Sosial, 1994). Etika santri kini melampaui ritual individu dan diwujudkan dalam aksi nyata untuk masyarakat.

Dalam perspektif epistemologi pendidikan Islam, pesantren mengajarkan model pengetahuan integratif, dialogis, dan berbasis pengalaman spiritual. Mulla Sadra menegaskan bahwa pengetahuan sejati lahir dari perpaduan rasio, intuisi, dan moralitas (Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta’aliyyah, 1640). 

Tradisi ngaji menjadikan guru sebagai teladan laku, bukan sekadar sumber teori (Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 2006). Fazlur Rahman menekankan double movement: memahami Quran dalam konteks sejarahnya, lalu menerapkannya pada konteks modern (Islam and Modernity, 1982). 

Mohammed Arkoun menekankan keberanian membuka wilayah pemikiran baru (Rethinking Islam, 1994), sementara Nasr Hamid Abu Zayd mendorong pembacaan konteks humanis dan kritis (Text, Authority and Community, 1990). 

Prinsip-prinsip ini membentuk santri modern: kritis, kreatif, dan moderat, tetap berakar pada tradisi pesantren.

Santri Indonesia mendapatkan model integratif dari tokoh-tokoh pendidikan Islam. KH. Hasyim Asy’ari menekankan adab dan keikhlasan (Hasyim Asy’ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, 1925), KH. Ahmad Dahlan menekankan amal sosial dan rasionalitas (Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah, 1912), Nurcholish Madjid membuka ruang kebebasan berpikir (Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992), Gus Dur menekankan pluralisme dan kemanusiaan (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006), dan Azyumardi Azra menekankan integrasi ilmu dan sejarah Islam Nusantara (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015). 

Mereka menegaskan bahwa moderasi bukan konsep abstrak, tetapi warisan intelektual dan praktik sosial yang berakar dalam tradisi pesantren.
Indonesia sebagai negara Muslim terbesar memiliki peluang unik: bukan dominasi, tetapi kontribusi. 

Santri dapat menjadi “duta peradaban” melalui diplomasi budaya, akademik, teknologi, dan gerakan sosial (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015). Tantangan terbesar berasal dari dalam: radikalisme, intoleransi, politisasi agama, dan disintegrasi pengetahuan. 

Moderasi beragama bukan sekadar posisi tengah, tetapi kerangka berpikir kritis, etis, dan spiritual yang menuntun manusia untuk menghormati perbedaan, mengedepankan keadilan, dan membangun kemanusiaan bersama.

Peradaban lahir dari integrasi logos, ethos, dan pathos: akal, moral, dan empati. Al-Farabi (Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah, 1995), Ibn Sina (Asy-Syifa, 1027), Ibn Khaldun (Al-Muqaddimah, 1377), dan Mulla Sadra (Al-Hikmah al-Muta’aliyyah, 1640) menekankan integrasi tersebut. 

Santri Indonesia harus melanjutkan tradisi: bukan sekadar penghafal, tetapi pencipta pengetahuan orisinal. Hari Santri menekankan humanisme dan eksistensialisme: kebebasan memilih nilai, kesadaran diri, dan integritas moral (Tillich, Dynamics of Faith, 1957). Pendidikan santri sejati mendidik jiwa (tahdzib al-nafs) dan mewujudkan kemanusiaan (tahqiq al-insaniyyah).

Santri masa kini harus menguasai literasi digital, riset ilmiah, dan media komunikasi modern. Integrasi ilmu modern dan kesadaran spiritual penting untuk membangun diplomasi intelektual global (Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 2006). 

Inovasi bukan sekadar teknologi, tetapi kemampuan menyintesiskan ilmu, iman, dan kemanusiaan. Hari Santri 2025 adalah panggilan reflektif: menyalakan api kebijaksanaan, merawat akar spiritual, dan meneguhkan Indonesia sebagai laboratorium peradaban rahmatan lil ‘alamin (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006; Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, 1987; Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015).

Ke depan, santri harus menjadi jembatan nilai lokal dengan tantangan global, penghubung antara tradisi keilmuan klasik dan kebutuhan modern, serta agen inovasi sosial yang mampu meredam konflik identitas, radikalisme, dan ketimpangan sosial-ekonomi. 

Moderasi beragama harus terinternalisasi sebagai budaya kritis, moral, dan inklusif. Inovasi harus menembus batas teknologi, ilmu, dan seni, menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan, tetapi pusat peradaban yang merdeka, humanis, dan global.

Hari Santri 2025 menegaskan bahwa identitas santri bukanlah identitas tertutup, tetapi identitas terbuka yang berpijak pada prinsip moral, keilmuan, dan spiritual. Santri adalah subjek aktif dalam sejarah, bukan sekadar objek tradisi. 

Mereka adalah agen transformasi sosial, intelektual, dan budaya yang mampu menghadirkan Indonesia sebagai laboratorium peradaban dunia, di mana nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan kreativitas berpadu harmonis. 

Santri, dengan moderasi dan inovasinya, bukan hanya menjaga kemerdekaan Indonesia, tetapi juga membangun peradaban yang inklusif, damai, dan berkelanjutan bagi umat manusia di seluruh dunia. (ord)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado, Thread Tribun Manado, Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved