Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Santri 2025

Santri dan Peradaban Dunia: Moderasi dan Inovasi untuk Kemanusiaan 

Santri bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi arsitek moral dan intelektual bangsa; bukan sekadar penghafal kitab,

Tayang:
Kolase/HO
KAKANWIL - Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd (Kakanwil Kemenag Sulut). Santri dan Peradaban Dunia: Moderasi dan Inovasi untuk Kemanusiaan.  

Santri harus membangun kesadaran kritis agar tidak hanya menjadi pengikut tradisi, tetapi subjek sejarah. Paulo Freire menekankan pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar hafalan (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970). 

Santri yang kritis mampu melawan ketidakadilan baru: kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, eksploitasi digital, hingga politik otoriter. KH. Sahal Mahfudz menegaskan bahwa fiqh harus menjadi instrumen transformasi sosial (Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqih Sosial, 1994). Etika santri kini melampaui ritual individu dan diwujudkan dalam aksi nyata untuk masyarakat.

Dalam perspektif epistemologi pendidikan Islam, pesantren mengajarkan model pengetahuan integratif, dialogis, dan berbasis pengalaman spiritual. Mulla Sadra menegaskan bahwa pengetahuan sejati lahir dari perpaduan rasio, intuisi, dan moralitas (Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta’aliyyah, 1640). 

Tradisi ngaji menjadikan guru sebagai teladan laku, bukan sekadar sumber teori (Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 2006). Fazlur Rahman menekankan double movement: memahami Quran dalam konteks sejarahnya, lalu menerapkannya pada konteks modern (Islam and Modernity, 1982). 

Mohammed Arkoun menekankan keberanian membuka wilayah pemikiran baru (Rethinking Islam, 1994), sementara Nasr Hamid Abu Zayd mendorong pembacaan konteks humanis dan kritis (Text, Authority and Community, 1990). 

Prinsip-prinsip ini membentuk santri modern: kritis, kreatif, dan moderat, tetap berakar pada tradisi pesantren.

Santri Indonesia mendapatkan model integratif dari tokoh-tokoh pendidikan Islam. KH. Hasyim Asy’ari menekankan adab dan keikhlasan (Hasyim Asy’ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim, 1925), KH. Ahmad Dahlan menekankan amal sosial dan rasionalitas (Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah, 1912), Nurcholish Madjid membuka ruang kebebasan berpikir (Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992), Gus Dur menekankan pluralisme dan kemanusiaan (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006), dan Azyumardi Azra menekankan integrasi ilmu dan sejarah Islam Nusantara (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015). 

Mereka menegaskan bahwa moderasi bukan konsep abstrak, tetapi warisan intelektual dan praktik sosial yang berakar dalam tradisi pesantren.
Indonesia sebagai negara Muslim terbesar memiliki peluang unik: bukan dominasi, tetapi kontribusi. 

Santri dapat menjadi “duta peradaban” melalui diplomasi budaya, akademik, teknologi, dan gerakan sosial (Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015). Tantangan terbesar berasal dari dalam: radikalisme, intoleransi, politisasi agama, dan disintegrasi pengetahuan. 

Moderasi beragama bukan sekadar posisi tengah, tetapi kerangka berpikir kritis, etis, dan spiritual yang menuntun manusia untuk menghormati perbedaan, mengedepankan keadilan, dan membangun kemanusiaan bersama.

Peradaban lahir dari integrasi logos, ethos, dan pathos: akal, moral, dan empati. Al-Farabi (Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah, 1995), Ibn Sina (Asy-Syifa, 1027), Ibn Khaldun (Al-Muqaddimah, 1377), dan Mulla Sadra (Al-Hikmah al-Muta’aliyyah, 1640) menekankan integrasi tersebut. 

Santri Indonesia harus melanjutkan tradisi: bukan sekadar penghafal, tetapi pencipta pengetahuan orisinal. Hari Santri menekankan humanisme dan eksistensialisme: kebebasan memilih nilai, kesadaran diri, dan integritas moral (Tillich, Dynamics of Faith, 1957). Pendidikan santri sejati mendidik jiwa (tahdzib al-nafs) dan mewujudkan kemanusiaan (tahqiq al-insaniyyah).

Santri masa kini harus menguasai literasi digital, riset ilmiah, dan media komunikasi modern. Integrasi ilmu modern dan kesadaran spiritual penting untuk membangun diplomasi intelektual global (Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 2006). 

Inovasi bukan sekadar teknologi, tetapi kemampuan menyintesiskan ilmu, iman, dan kemanusiaan. Hari Santri 2025 adalah panggilan reflektif: menyalakan api kebijaksanaan, merawat akar spiritual, dan meneguhkan Indonesia sebagai laboratorium peradaban rahmatan lil ‘alamin (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006; Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, 1987; Azra, Islam Nusantara dan Tantangan Modernitas, 2015).

Ke depan, santri harus menjadi jembatan nilai lokal dengan tantangan global, penghubung antara tradisi keilmuan klasik dan kebutuhan modern, serta agen inovasi sosial yang mampu meredam konflik identitas, radikalisme, dan ketimpangan sosial-ekonomi. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved