Opini
Merawat Bumi, Meneladani Nabi : Refleksi Maulid 2025
Momen suci ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan emas untuk mengenang kembali kelahiran Rasulullah.
Spirit ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang majemuk. Kelestarian bumi dan negeri bukan hanya tentang menjaga ekologi, tetapi juga menjaga persatuan. Konflik sosial, intoleransi, dan ketidakadilan ekonomi adalah bentuk lain dari “kerusakan” yang harus dihindari.
Peringatan Maulid seharusnya melahirkan tekad baru: membangun negeri dengan prinsip keadilan, solidaritas, dan kebersamaan.
Konteks Sulawesi Utara: Harmoni Lintas Iman dan Ekologi
Sulawesi Utara dikenal sebagai laboratorium kerukunan di Indonesia. Toleransi antarumat beragama relatif terjaga, dan keragaman dijadikan modal sosial untuk membangun daerah.
Namun, Sulawesi Utara juga menghadapi tantangan ekologis: kerusakan terumbu karang, pencemaran laut, dan ancaman banjir bandang. Dalam konteks ini, tema Maulid 2025 mengingatkan masyarakat Sulut bahwa menjaga kerukunan harus berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan.
Maulid bisa dijadikan momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa kerukunan tanpa keberlanjutan ekologis tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, kepedulian pada bumi akan memperkokoh solidaritas lintas iman.
Implikasi Filosofis, Etis, dan Religius
Refleksi atas Maulid 2025 dengan tema keteladanan Nabi untuk kelestarian bumi dan negeri membawa implikasi penting:
1. Implikasi Filosofis
Manusia harus melihat dirinya sebagai bagian dari kosmos. Krisis ekologis bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga kegagalan memahami eksistensi sebagai khalifah di bumi.
2. Implikasi Etis
Gaya hidup berlebihan harus ditinggalkan. Kesederhanaan Nabi harus dihidupkan dalam pola konsumsi, pembangunan, dan relasi sosial.
3. Implikasi Religius
Merawat bumi adalah bagian dari iman. Maulid Nabi harus menjadi titik awal gerakan religius-ekologis yang konkret.
Penutup: Maulid sebagai Momentum Transformasi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2025 dengan tema “Keteladanan Nabi Muhammad untuk Kelestarian Bumi dan Negeri” bukanlah slogan seremonial. Ia adalah panggilan moral, spiritual, dan kebangsaan.
Dalam diri Nabi, kita menemukan teladan kesederhanaan, kasih sayang, dan kepedulian ekologis. Dalam ajarannya, kita menemukan etika keberlanjutan. Dalam jejaknya, kita menemukan inspirasi untuk membangun bangsa yang adil, damai, dan lestari.
Tugas kita hari ini adalah menerjemahkan teladan itu dalam kehidupan nyata: menjaga hutan, merawat laut, mengurangi sampah, memperkuat kerukunan, dan membangun negeri dengan keadilan. Hanya dengan begitu, Maulid tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi transformasi hidup. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Kepala-Kanwil-Kakanwil-Kemenag-Sulut-Dr-Drs-H-Ulyas-Taha-MPd-Foto-kolase.jpg)