Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Merawat Bumi, Meneladani Nabi : Refleksi Maulid 2025

Momen suci ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan emas untuk mengenang kembali kelahiran Rasulullah.

Dokumentasi/HO
KAKANWIL - Tulisan oleh Kepala Kanwil (Kakanwil) Kemenag Sulut, Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd. Tentang Refleksi Maulid 2025. 

Oleh: 
Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd 
(Kepala Kanwil Kemenag Sulut

HARI ini istimewa bagi seluruh umat Islam karena diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW atau 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah.

Momen suci ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga kesempatan emas untuk mengenang kembali kelahiran Rasulullah, meneladani perjuangannya, dan merefleksikan ajaran-ajaran mulia yang dibawanya.

Tema peringatan tahun ini, “Keteladanan Nabi Muhammad untuk Kelestarian Bumi dan Negeri”, menjadi titik tolak refleksi penting. Ia menegaskan bahwa keteladanan Nabi tidak hanya menyangkut ritual ibadah atau akhlak individual, tetapi juga merambah pada tanggung jawab ekologis dan sosial kemasyarakatan.

Keteladanan Nabi dalam Perspektif Filosofis

Secara filosofis, keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan etika universal dalam kehidupan. Nabi bukan sekadar figur spiritual, melainkan simbol keterpaduan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Pemikiran filsuf Muslim klasik seperti Al-Farabi dan Ibnu Khaldun menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk kosmik. 

Sebagai khalifah, manusia tidak boleh hanya mengatur sesamanya, tetapi juga menjaga harmoni dengan lingkungan. 

Nabi Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan itu melalui gaya hidup sederhana, sikap hemat air, kepedulian pada hewan, dan penghormatan terhadap tanah.

Dalam konteks modern, refleksi filosofis ini dapat ditarik pada etika lingkungan. Hans Jonas, seorang filsuf Jerman, menekankan pentingnya prinsip tanggung jawab dalam era teknologi dan krisis ekologi. Prinsip itu selaras dengan sabda Nabi: “Sesungguhnya bumi ini hijau dan indah, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai pengelolanya.” (HR. Muslim). Artinya, kelestarian bumi adalah amanah, bukan sekadar pilihan moral.

Etika Maulid: Menyatukan Ibadah dan Tanggung Jawab Ekologis

Secara etis, peringatan Maulid menuntut kita untuk menjembatani spiritualitas dengan aksi nyata. Nabi mencontohkan kesederhanaan, bukan hanya untuk kerendahan hati, tetapi juga untuk menghindari kerakusan yang merusak tatanan sosial dan ekologis.

Ketika Nabi melarang umatnya berlebihan dalam menggunakan air meski saat berwudhu di sungai yang melimpah, beliau sesungguhnya mengajarkan etika keberlanjutan. Etika ini mengandung tiga dimensi:

1. Dimensi Relasi dengan Tuhan

Menjaga bumi adalah bentuk ibadah. Kerusakan lingkungan berarti pengkhianatan terhadap amanah Ilahi.

Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved