Catatan Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Air Mata Gertruida
Panti Werdha Damai di Ranomuut, Paal Dua, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), hangus terbakar.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Sesungguhnya tubuh mereka tak lagi tepat disebut jenazah.
Tapi tulang belulang. Tulang yang menghitam dan mengecil karena hangus terbakar.
Tim berkeliling ruangan dan berkali-kali melewati sesuatu yang dikira sebuah benda.
Kemudian terkuak bilamana itu tengkorak manusia.
Baik polisi, relawan dan lainnya, semua meneteskan air mata.
Saya pun keluar dengan mata nanar, dipenuhi kunang-kunang.
Dan mual karena bau angus daging sangat menyengat.
Dan saya kian sesak karena Gertruida. Ini nama awal dari panti asuhan itu.
Saya mengira sang Gertruida ini orang dan ia berkebangsaan Belanda.
Benar ia orang. Tapi orang Indonesia. Gertruida adalah pendiri panti asuhan itu.
Dan ternyata terinformasi kuat Gertruida adalah oma tuaku.
Alias nenek dari pihak ayah. Saya shock dan merasa orang paling bodoh sekaligus paling bangsat di dunia.
Tak mengenali karya orang tua sendiri. Di sela sela liputan, saya duduk merenung.
Saya mau berdoa, Tuhan, tapi lidah kelu. Pikiran saya pun hampa dan mulai terisi gelap.
Dalam gelap, saya mulai memandang segalanya gelap. Termasuk takdir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Kondisi-Panti-Werda-Damai-di-Kelurahan-Ranomuu-seusai-kebakaran-hebat.jpg)