Kasus Dana Hibah GMIM
Kasus Dana Hibah, Kejari Terima Titipan Barang Bukti Rp 5,2 Miliar, Pengamat Beber Fungsi Pembuktian
Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado terus mendalami kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) terkait pemberian dana hibah
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Glendi Manengal
TRIBUNMANADO.CO.ID – Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado terus mendalami kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) terkait pemberian dana hibah dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kepada Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) tahun anggaran 2020 hingga 2023.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) melalui Kasi Intelijen Kejari Manado, Evans, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima penitipan uang dari terdakwa Hein Arina sebanyak tiga kali.
“Pertama pada 15 Agustus 2025 sebesar Rp 2 miliar, lalu pada 19 Agustus 2025 sebesar Rp 2 miliar, dan terakhir pada 21 Agustus 2025 sebesar Rp 1,2 miliar,” ujar Evans, Rabu (27/8/2025).
Dengan begitu, total uang yang kini dititipkan ke rekening penitipan lain (RPL) Kejari Manado berjumlah Rp 5,2 miliar.
Menanggapi perkembangan ini, akademisi Fakultas Hukum Unsrat Manado, Eugenius Paransi beri tanggapan.
Ia menegaskan bahwa penitipan uang tersebut merupakan bagian dari proses pembuktian di pengadilan.
Menurutnya, dalam perkara pidana, yang dikejar adalah alat bukti dan keyakinan hakim.
"Barang bukti itu tujuannya untuk meyakinkan hakim bahwa pidana memang terjadi,” ujar Paransi via WhatsApp, Rabu (27/8/2025) pukul 22:20 Wita.
Ia menambahkan, penitipan uang bisa menjadi bahan pertimbangan.
Namun keputusan akhir tetap berada di tangan majelis hakim yang menilai keseluruhan alat bukti di persidangan. (Pet)
Penitipan Barang Bukti Rp 5,2 Miliar
Penitipan barang bukti uang tunai senilai Rp 5,2 miliar terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara kepada Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Tahun Anggaran 2020 hingga 2023.
Penitipan barang bukti tersebut dilakukan atas nama tersangka Hein Arina yang saat ini sedang menjalani proses hukum di pengadilan.
Penitipan barang bukti ini bukan baru yang pertama, pada tanggal 15 Agustus tahun 2025, Hein Arina telah menyerahkan uang Rp 2 miliar.
Lalu, tanggal 19 Agustus 2025 dengan total Rp 2 miliar.
Kemudian 21 Agustus 2025, penitipan kembali dilakukan sebanyak Rp 1,2 miliar.
Jadi jika ditotalkan semua, uang yang dititipkan sebanyak Rp 5,2 miliar.
Barang bukti diterima berdasarkan Surat Perintah Penunjukan Jaksa Penuntut Umum Untuk Penyelesaian Perkara Tindak Pidana (P-16-A) Nomor: PRINT-1668/P.1.10/Ft.1/08/2025 tertanggal 7 Agustus 2025.
Kepala Seksi Pidana Khusus Evans E Sinulingga membenarkan adanya penyerahan barang bukti tersebut.
“Benar, Kejaksaan Negeri Manado menerima barang bukti berupa uang dalam perkara dugaan korupsi dana hibah Pemprov Sulut kepada Sinode GMIM dengan terdakwa Pdt. Hein Arina,” ujarnya Rabu (27/8/2025).
Menurutnya, penyerahan barang bukti ini merupakan bagian dari tahapan pembuktian dalam proses hukum yang sedang berjalan.
Uang tersebut akan dipergunakan sebagai barang bukti persidangan dan akan dicatat dalam administrasi kejaksaan sesuai prosedur.
“Barang bukti yang kami terima akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan menjadi bagian dari kelengkapan pembuktian di pengadilan,” tambahnya.
Sebelumnya, Polda Sulawesi Utara menjelaskan bahwa pihaknya sampai saat ini menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah terhadap penanganan dugaan korupsi dana hibah Pemprov kepada Sinode GMIM.
"Kita transparansi dalam penegakan hukum dan secepatnya akan kordinasikan dengan kejaksaan untuk tahap duanya," jelasnya.
Dirreskrimsus juga menjelaskan hal terkait pemblokiran dan penyitaan dana Rp 3,4 miliar di rekening Sinode GMIM.
Kata dia pada tanggal 3 Juli 2025 telah dilaksanakan pemblokiran terhadap rekening milik Sinode GMIM, dimana rekening tersebut merupakan rekening penampungan baik untuk pendapatan bidang usaha, kontribusi, sentralisasi, bantuan dan anggaran lainnya termasuk masuknya dana hibah Pemerintah Provinsi Sulut TA 2020-2023.
Pemblokiran anggaran tersebut lanjutnya, didapatkan dari jumlah kerugian negara yang dibebankan kepada Sinode GMIM serta jumlah anggaran dana hibah yang tidak dipertanggungjawabkan dan masih berada di dalam kas Sinode GMIM.
Berdasarkan keterangan saksi dan pencatatan anggaran baik buku mutasi bank dan buku kas umum yang menjadi kerugian negara berdasarkan PPKN yang dilakukan oleh BPKP RI Perwakilan Sulut.
"Anggaran tersebut sudah dilakukan penyitaan dan upaya penyitaan tersebut adalah dilakukan sebagai upaya asset tracing dalam rangka pengembalian kerugian keuangan negara dan juga menjadi salah satu petunjuk JPU untuk kepentingan penambahan pasal 18 Undang-Undang Nomor 3q tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001," tegasnya.
Dan apabila tidak terbukti lanjutnya, maka dana tersebut akan dikembalikan ke Sinode GMIM.
"Namun jika terbukti dana tersebut hasil korupsi maka akan dikembalikan ke Negara," pungkasnya.
Diketahui ada 5 orang tersangka dugaan korupsi pada kasus dana hibah Pemprov Sulut kepada Sinode GMIM telah ditahan Pihak kepolisian.
Mereka adalah Mantan Kepala BKAD Pemprov Sulut Jefry Korengkeng, Mantan Karo Kesra Fereydi Kaligis, Mantan Sekprov Steve Kepel, Mantan Asisten III Assiano Gemmy Kawatu, Ketua Sinode GMIM Hein Arina.
Pada tahun 2020, 2021,2022 dan 2023, Pemprov Sulut telah melaksanakan pengalokasian, pendistribusian dan realisasi dana untuk belanja hibah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sejumlah Rp 21,5 miliar yang dilakukan secara melawan hukum dan atau menyalahgunakan kewenangan
Atas kejadian hal tersebut diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara Rp 8,9 miliar.
Pada kasus ini modus yang dilakukan yaitu melakukan mark-up dalam penggunaan dana.
Penggunaan dana tidak sesuai peruntukkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan pertanggungjawabannya fiktif.
Penyidik telah melakukan penyitaan terhadap barang bukti dokumen surat yang berkaitan dengan pemberian dana hibah dari pemerintah Provinsi Sulawesi Utara kepada Sinode GMIM. (Ren)
TribunManado.co.id/Pet/Ren
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
Barang Bukti Uang Rp 5,2 Miliar yang Dititipkan Terdakwa Hein Arina Disimpan di RPL Kejari Manado |
![]() |
---|
Kuasa Hukum Hein Arina Bantah Sang Klien Nikmati Uang Dana Hibah GMIM Secara Pribadi |
![]() |
---|
Berkas 5 Tersangka Korupsi Dana Hibah GMIM Tembus Pengadilan, 29 Agustus 2025 Sidang Dimulai |
![]() |
---|
Catat, Tanggal Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah GMIM, Akhir Bulan Agustus 2025 |
![]() |
---|
Rentang Waktu Penyerahan Barang Bukti Uang Rp 5,2 Miliar dari Terdakwa Hein Arina ke Kejari Manado |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.