Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

DNA Bebek dan Bulu Burung Ditemukan dalam Mesin Jet Jeju Air

Kedua mesin jet Boeing 737-800 yang jatuh pada bulan Desember dan menewaskan 179 orang berisi sisa-sisa burung teal Baikal, bebek migrasi.

Editor: Arison Tombeg
Kolase Tribun Manado
Puing pesawat Jeju Air. Kedua mesin jet Boeing 737-800 yang jatuh pada bulan Desember dan menewaskan 179 orang berisi sisa-sisa burung teal Baikal, bebek migrasi yang terbang ke Korea Selatan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Seoul - Kedua mesin jet Boeing 737-800 yang jatuh pada bulan Desember dan menewaskan 179 orang berisi sisa-sisa burung teal Baikal, bebek migrasi yang terbang ke Korea Selatan untuk musim dingin.

Mesin pesawat yang jatuh di Korea Selatan bulan lalu berisi sisa-sisa burung, demikian temuan penyelidikan awal terhadap bencana penerbangan terburuk di negara itu.

Laporan enam halaman yang dirilis pada hari Senin oleh otoritas Korea Selatan mengatakan kedua mesin jet Boeing 737-800 itu memiliki DNA dari Baikal Teals, sejenis bebek migrasi yang terbang ke Korea Selatan untuk musim dingin dalam kawanan besar.

Noda darah burung dan bulu “ditemukan pada setiap” mesin, tambahnya.

Namun, laporan itu tidak memberikan kesimpulan awal tentang apa yang mungkin menyebabkan pesawat Jeju Air mendarat tanpa roda pendaratan terpasang, dan mengapa perekam data penerbangan berhenti merekam dalam empat menit terakhir penerbangan.

Penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik ​​Korea Selatan dan AS terus berlanjut.

Sekelompok Burung

Pesawat itu terbang dari Thailand ke Muan di Korea Selatan pada tanggal 29 Desember ketika mendarat darurat dan meledak menjadi bola api setelah menghantam penghalang beton.

Bencana tersebut menewaskan 179 dari 181 penumpang dan awak pesawat.

“Pilot mengidentifikasi sekelompok burung saat mendekati landasan pacu 01, dan kamera keamanan memfilmkan HL8088 mendekati sekelompok burung saat berputar balik,” tambah laporan itu, mengacu pada nomor registrasi jet Jeju Air.

Setelah menara pengawas lalu lintas udara mengizinkan pesawat mendarat, menara tersebut menyarankan para pilot untuk berhati-hati terhadap potensi tabrakan dengan burung pada pukul 8:58 pagi, kata laporan itu.

Hanya semenit kemudian, sistem perekaman suara dan data berhenti berfungsi , sementara pesawat sudah berada pada ketinggian sekitar 152 meter (500 kaki) dan hanya 2 km (1,2 mil) dari landasan pacu.

Beberapa detik setelah sistem perekaman rusak, pilot menyatakan Mayday karena menabrak burung dan mencoba mendarat dengan perut.

Pesawat itu meledak dan terbakar ketika bertabrakan dengan tanggul beton saat mendarat, sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa jenis barikade itu ada di ujung landasan.

Minggu lalu, pihak berwenang mengatakan mereka akan mengganti penghalang beton seperti itu di bandara-bandara di seluruh negeri dengan “struktur yang dapat dipecahkan”.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved