Catatan Wartawan
Gerungan, Dari Abad 15
Terungkaplah silsilah Gerungan dari abad ke 15 hingga 20. Hasil penelusuran ini, Boeng bukukan. Judulnya "Silsilah Keluarga Gerungan 1500 - 2012".
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Misi muskil diemban Boeng Jacob Dirk Albernesus Gerungan Dotulong.
Menelusuri jejak Gerungan, marganya dari garis ibu, sejauh mungkin.
Dan ia berhasil.
Terungkaplah silsilah Gerungan dari abad ke 15 hingga 20.
Hasil penelusuran ini, ia bukukan. Judulnya "Silsilah Keluarga Gerungan 1500 - 2012".
Ketika memperoleh buku itu, saya terkejut. Ada nama saya. Tepatnya di turunan ke XII.
Nenek saya dari pihak ibu bermarga Gerungan.
Lebih terkejut lagi ada nama Gerungan Samuel Jacob Ratulangi, pahlawan nasional asal Sulut dalam pohon silsilah keluarga Gerungan.
Sam Ratulangi, nama bekennya, ada di keturunan ke IX dari ibunya yang bernama Augustina Gerungan.
Kemudian Brigjen A.E Kawilarang, tokoh militer Indonesia yang berjasa mendirikan Kopasus.
Wahh !!!.
Buka setebal 244 halaman tersebut menunjukkan keuletan, ketekunan dan kecerdasan Boeng.
Bukan hal mudah menelusuri silsilah keluarga. Seabad saja sulit, apalagi sampai berlapis abad.
Apalagi ia bermukim di luar negeri.
Butuh energi yang luar biasa untuk "berburu" Gerungan dari Belanda dan Australia, dua negara yang didiaminya.
Petunjuk awalnya adalah cerita lisan dari sang ibunda Wilhelmina Josefina Maria Gerungan beserta catatan peninggalan sejarah pernikahan 40 tahun kedua orang tuanya plus surat surat otentik dan akta pendeta Hessel Rooker.
Dari situ, Boeng pulang kampung untuk menelusuri cerita ibunya di Tondano dan beberapa daerah lainnya.
Deretan fakta itu dikongkretkannya dengan mengunjungi KITLV di Leiden, KIT Amsterdam dan perpustakaan Australia.
Segepok buku ia baca untuk melengkapi isi buku.
Mayoritas penulis asal Belanda. Diantaranya C Van Den Hart, P Bleeker, P Van Der Crab, J.G.F Riedel dan N Graafland. Nama terakhir tak asing.
Dialah penginjil sekaligus tokoh pers yang mendirikan koran pertama di Sulut Tjahaja Siang.
Saya mengamati, buku itu, dalam konteks tertentu dapat juga disebut buku sejarah Minahasa.
Di dalamnya ada cerita tentang asal usul suku Minahasa, perang suku Tondano dengan Belanda, masuknya injil di tanah Minahasa dan masih banyak lagi.
Boeng dengan cerdas menyelipkan kisah - kisah itu di sela - sela uraian silsilah Gerungan yang rumit.
Ibaratnya, silsilah itu cabang, sejarah adalah daun dalam pohon keluarga Gerungan.
Silsilah Gerungan jadi puncak - puncak. Sementara sejarah Minahasa jadi lembah - lembah.
Cara penyajian yang menarik dan berkelas. Boeng juga pintar meriset. Data keluarga ia riset dengan seksama.
Contohnya keluarga saya. Datanya begitu akurat.
Nama ibu, saudara hingga sepupu tak ada yang salah.
Pun peristiwa bersejarah yang terjadi di Minahasa.
Sangat faktual dan detil.
Beberapa kisah disana tergolong Untold story, tak ada dalam buku sejarah ; Boeng berolehnya dari cerita sumber pertama.
Saya menggarisbawahi dua hal.
Pertama, buku tersebut merupakan bukti cinta Boeng pada ibunya.
Dalam buku itu, ada bab khusus yang membahas tentang biografi sang ibu.
Di pembuka buku, ia menjelaskan, mulai berpikir menyusun buku tersebut pada hut ibunya yang jatuh pada 15 Maret 1890.
Pesan ibunya, "Agar ikatan keluarga khususnya suku Minahasa pada umumnya, jangan sampai diabaikan".
Inilah ruh yang menjiwai setiap huruf dalam buku tersebut.
Kedua, cinta pada Minahasa.
Meski alam pikirannya sudah eropa, tapi Boeng tak pernah lupa dari mana akar ia berasal ; Minahasa.
Maka buku itu bisa pula berarti surat cinta dari seorang di perantauan terhadap tanah leluhurnya.
Dari informasi yang saya terima, yang sudah berusia 90 tahun, telah menyipakan kuburnya di Minahasa.
Ia ingin dikuburkan di tanah tumpah darahnya.
Cinta pada Minahasa itu kemudian menuntun cinta pada insan manusia dan pada akhirnya berujung pada Tuhan, sang empunya kehidupan.
Saya terharu melihat akhir dari buku itu yakni Doa Bapa Kami dalam bahasa Tondano.
Dan pada akhirnya buku itu menunjukan bahwa Torang Samua Basudara.
Saya terbelalak melihat banyaknya marga keluarga Minahasa yang terjalin pada pohon keluarga Gerungan.
Ini buku yang bukan sekedar pengetahuan, tapi memberikan spirit dan menginspirasi.
Dia bukan ekslusif, meski membahas keluarga Gerungan. Tapi inklusif.
Berbicara tentang anak semua bangsa.
Saya kagum pada Boeng.
Saya seorang wartawan yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia tulis menulis.
Tapi hanyalah sebutir debu dibandingkan Boeng.
Membaca buku ini, saya terpukau, sekaligus kena mental.
Bisakah saya menulis seperti Boeng, dengan kepala yang dingin, hati yang hangat dan jiwa cinta pada Minahasa ? Saya ragu. (Arthur Rompis)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Bergabung dengan WA Tribun Manado di sini >>>
Simak Berita di Google News Tribun Manado di sini >>>
Baca Berita Update TribunManado.co.id di sini >>>
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Silsilah-Keluarga-Gerungan-1500-2012.jpg)