Kamis, 14 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah

Sejarah dan Profil AH Nasution Pahlawan Nasional Indonesia, Konseptor Perang Gerilya yang Mendunia

Sosok yang akrab disapa AH Nasution ini juga tokoh yang turut membentuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari nol.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
HO
AH Nasution, pahlawan nasional Indonesia, konseptor perang gerilya yang mendunia 

Akibatnya, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan Perdana Menteri Syahrir ditawan oleh Belanda.

Dalam situasi pelik ini, Nasution mengumumkan pembentukan Pemerintahan Militer Indonesia, yang menjadi cikal-bakal lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Nasution diberi posisi sebagai Komandan Angkatan Darat dan Teritorial Jawa selama pemerintahan sementara ini berlangsung.

Setelah Belanda bersedia mengakui kedaulatan Indonesia, PDRI mengembalikan kekuasaan mereka kepada Presiden Soekarno dan Hatta.

Nasution pun kembali ke jabatan semula sebagai Wakil Panglima Jenderal Soedirman.

Nyaris Diculik Gerobolan G30S

Pada 1 Oktober 1965, terjadi peristiwa penculikan tujuh perwira Angkatan Darat yang disebut sebagai Gerakan 30 September atau G30S.

Nasution pun menjadi salah satu target untuk diculik oleh para pelaku yang juga tentara.

Tokoh yang bertugas memimpin pasukan penangkapan Nasution adalah Letnan Doel Arief dan timnya yang terdiri dari empat truk dan dua mobil.

Pukul 04.00 pagi, mereka berusaha masuk ke kediaman rumah Nasution secara diam-diam.

Sekitar 15 tentara dikirim masuk ke dalam rumah. Mereka mengira Nasution pasti sudah terlelap.

Namun, ternyata ia masih terjaga bersama istrinya. Nasution sendiri tidak mendengar ada suara apapun.

Sementara istrinya mengatakan bahwa ia mendengar ada suara pintu yang dibuka paksa.

Istri Nasution pun segera bangun untuk memeriksa.

Begitu ia membuka pintu kamar, ia melihat tentara Cakrabirawa sudah berdiri di sana dan mengarahkan senjata siap menembak.

Otomatis sang istri langsung menutup pintu sembari berteriak.

Nasution pun langsung mencoba melarikan diri bersama sang istri melalui pintu lain dan menyusuri koridor pintu samping rumahnya.

Selama Nasution berusaha menyelamatkan diri, beberapa peluru sudah ditembakkan.

Alhasil, seluruh penghuni rumah ikut terbangun dan ketakutan mendengar suara tembakan tersebut.

Ibu dan adik Nasution, Mardiah, yang juga tinggal di dalam rumah tersebut langsung berlari ke kamar tidur Nasution.

Mardiah berlari dengan membawa putri Nasution yang masih berusia lima tahun bernama Irna.

Keduanya mencoba untuk bersembunyi di sebuah tempat yang aman, tetapi saat sedang berlari seorang kopral dari penjaga istana melepaskan tembakan ke arahnya.

Irma pun terkena tembak sebanyak 3 kali di bagian punggungnya. Lima hari kemudian, Irma dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

Sementara itu, Nasution berhasil lolos dari kejaran para tentara yang hendak menangkapnya. Nasution langsung bergegas mengambil tindakan untuk mengatasi hal ini.

Pada akhirnya, pukul 06.00 tanggal 2 Oktober 1965, G30S berhasil diatasi.

Setelah Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, ia memerintahkan penangkapan 15 menteri yang dianggap sebagai loyalis Soekarno pada 18 Maret 1966.

Akibatnya, posisi ketua MPRS yang sebelumnya dipegang Chairul Saleh mengalami kekosongan, karena ia ikut tertangkap.

Nasution pun ditunjuk untuk menduduki posisi tersebut pada periode 1966-1972.

Konseptor Perang Gerilya

Berbekal pengalamannya dalam perang revolusi di Indonesia dari 1945 hingga 1949, jenderal bintang lima ini menjadi konseptor perang gerilya untuk kalangan akademisi militer. 

Pokok-pokok Gerilya (1953) atau Fundamentals of Guerrilla Warfare adalah salah satu buku AH Nasution yang kini sudah terkenal di kalangan militer sedunia.

Pemikiran, konsep dan, ide dari AH Nasution yang dituangkan dalam buku Pokok-pokok Gerilya dimulai pada masa agresi militer Belanda.

Saat itu, strategi linier yang digunakan pasukan TNI tidak berhasil sehingga mudah diterobos oleh pasukan Belanda.

AH Nasution pun memiliki gagasan untuk menyusun dan menerapkan konsep perang gerilya. Tujuannya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perang gerilya adalah perang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, berpindah-pindah dan penuh kecepatan.

Sebab, menurut Nasution, serbuan dari pasukan Belanda tidak mungkin ditahan. Sehingga, tindakan yang paling mungkin dilakukan adalah memperlambat serangan musuh.

AH Nasution saat itu menyadari persenjataan TNI dan strategi konvensional tidak akan mampu menghadapi Belanda sehingga diperlukan adanya kantong-kantong gerilya.

Maka itu, dibentuklah daerah pertahanan (wehrkreise) untuk menghadapi tentara Belanda yang lebih kuat persenjataannya.

Selain menulis buku Pokok-pokok Gerilya, Pak Nas juga pernah menyusun konsep perang territorial.

Sejak tahun 1960 pun konsep teritorial itu resmi digunakan TNI AD sebagai doktrin pertahanan nasional.

Di masa tuanya, AH Nasution pun masih aktif menulis memoar atau pengalaman hidup dan perjuangannya di awal masa Kemerdekaan Indonesia.

Putri sulung Pak NAS, Hendrianti Sahara Nasution mengungkapkan, sejak dahulu ayahnya memang gemar membaca dan menulis buku.

"Beliau berpikir, mungkin pengalaman beliau itu bisa jadi pelajaran dan memang beliau itu bukunya memang dipakai. Beliau kalau tidak salah ada 70-80 judul dari beliau dan itu beliau tulis sendiri," ujar Hendrianti seperti dikutip dari acara "Singkap" di Kompas TV.

Abdul Haris Nasution wafat pada 6 September 2000 di Jakarta setelah menderita penyakit stroke dan koma.

Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Untuk mengenang jasanya, AH Nasution diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Bergabung dengan WA Tribun Manado di sini >>>

Simak Berita di Google News Tribun Manado di sini >>>

Baca Berita Update TribunManado.co.id di sini >>> 

SUMBER:

Sumber: Kompas.com
Halaman 4/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved