Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

OPINI

Memasuki Indonesia Emas Bebas Stunting

Anak-anak stunting dapat mengalami gangguan fisik dan kognitif berat yang tidak dapat diperbaiki yang menyertai hambatan pertumbuhan linier.

|
Dokumen Laurensi M Sasube
Laurensi Meity Sasube, MBiotech (Dosen Fakultas Keperawatan Unika De La Salle Manado) 

Upaya-upaya untuk menurunkan prevalensi wasting dan stunting menjadi sangat mendesak saat ini.

Juga diperlukan dukungan semua pihak agar Pemerintah Indonesia dapat memenuhi komitmennya dalam penanganan stunting dan wasting serta dapat memenuhi target-target yang telah ditetapkan untuk tahun 2024 dan 2025. 

Target-target dimaksud antara lain: 

  1. Mengakhiri segala bentuk masalah gizi, termasuk mencapai target wasting yang telah disepakati secara internasional: World Health Assembly (<5>
  2. Menurunkan prevalensi stunting dari 30,8 persen di tahun 2018 ke 14 persen di tahun 2024 (tercantum dalam Strategi Percepatan Pencegahan Stunting Nasional 2017 dan Rencana Pembangunan Jangja Menengah 2020 - 2024
  3. Menurunkan wasting dari 10,2 persen di tahun 2018 ke 7 persen di tahun 2024 (tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah  2020 – 2024) dan memasukkan tata laksana gizi kurang dan gizi buruk sebagai dua intervensi gizi spesifik untuk mempercepat upaya penurunan stunting
  4. Memberikan tata laksana bagi 90 persen anak gizi buruk di tahun 2024 sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden no 72, 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting;
    Minimal 60 persen puskesmas mampu memberikan layanan Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) di tahun 2024, sesuai rencana strategi (Stranas) Kementerian Kesehatan
  5. Menurunkan prevalensi bayi berat badan lahir rendah (BBLR) menjadi dibawah 10 % , meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif minimal 60 % , meningkatkan cakupan tata 

Untuk mendukung pencapaian target-target di atas perlu didukung komitmen politik yang kuat.

Juga perlu memastikan bahwa Kementerian Kesehatan benar-benar memperluas akses ke tata laksana gizi buruk ke seluruh provinsi dan program-program gizi sensitif dengan fokus pencegahan stunting di seluruh provinsi. 

Saat ini kurang dari satu tahun menuju tahun 2025, kita membutuhkan aksi segera secara bersama untuk mempercepat upaya-upaya pencapaian komitmen ini, dengan cara kerja baru untuk memastikan anak-anak Indonesia hidup sejahtera dan panjang umur.

Hal apa lagi yang harus dilakukan untuk menurunkan angka kekurangan gizi di Indonesia?

Empat aksi kunci yang diperlukan yakni: 

1. Meningkatkan kesadaran publik terkait wasting dan hubungannya dengan stunting

Inisiatif-inisiatif untuk memperkuat kesadaran publik tentang wasting perlu diprioritaskan, dengan fokus pada bagaimana wasting dan stunting saling terkait, bagaimana mengidentifikasi anak wasting secara dini dan kemana harus mencari perawatan bila upaya pencegahan gagal. 

2. Mengembangkan strategi pencegahan bersama dan memastikan cakupan layanan 

PGBT secara menyeluruh Layanan PGBT perlu terus ditingkatkan cakupan dan kualitasnya, sebagai salah satu komponen utama upaya pencegahan stunting dan terpadu dalam system kesehatan.

Mendekatkan tata laksana gizi buruk sedekat mungkin ke masyarakat dan meningkatkan upaya-upaya mempromosikan deteksi dini wasting oleh keluarga dan masyarakat sangatlah penting. 

3. Memastikan pendanaan yang terencana, memadai dan selaras target wasting dan stunting nasional hanya bisa dicapai dengan sumber biaya dan anggaran yang kuat, terencana dan selaras.

Investasi yang besar diperlukan untuk mencapai target penurunan wasting dan stunting nasional dan global. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved