Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Timur Tengah

Kisah Penganut Druze di Dataran Tinggi Golan, Setia ke Suriah, Tolak Kewarganegaraan Israel

Menurut keterangan Dewan Regional Majdal Shams kepada CNN, tak satu pun dari warga Druze yang tewas dalam serangan memiliki kewarganegaraan Israel.

|
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Tangkapan layar FRANCE 24
Warga Druze di Dataran Tinggi Golan saat prosesi pemakaman korban tewas akibat roket yang menghantam lapangan sepak bola di Kota Majdal Shams. 

Mereka yang menolak jadi warga negara Israel tetapi tetap tinggal di wilayah itu diberikan kartu izin tinggal oleh Israel.

Kebijakan Diskriminatif Israel

Tahun lalu, Dewan Hak Asasi Manusia PBB menyuarakan kekhawatiran atas rencana Israel untuk melipatgandakan populasi permukim di Golan pada tahun 2027.

Menurut Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial PBB, kelompok Druze Suriah di Golan telah menderita akibat kebijakan yang diskriminatif, terutama yang berkaitan dengan alokasi lahan dan air.

“Selama bertahun-tahun, perluasan permukiman Israel dan aktivitas mereka telah mengurangi akses petani Suriah terhadap air, karena kebijakan diskriminatif terkait harga dan upah,” kata komite PBB.

Kelompok Druze di Dataran Tinggi Golan secara historis menentang hukum Israel yang mereka nilai sebagai upaya “Israelisasi”.

Tahun 2018, ribuan pengunjuk rasa yang dipimpin kelompok Druze menentang Undang-Undang Dasar Negara-Bangsa Yahudi yang diajukan parlemen Israel, karena khawatir hal itu akan memperdalam diskriminasi.

Undang-undang tersebut menetapkan Israel sebagai tanah-air historis bagi orang-orang Yahudi dengan Yerusalem “bersatu” sebagai ibu kotanya dan menyatakan bahwa orang-orang Yahudi “memiliki hak eksklusif untuk menentukan nasib sendiri secara nasional” di Israel.

Para pemimpin Druze saat itu mengatakan, undang-undang kontroversial itu membuat mereka merasa seperti warga negara kelas dua karena aturan itu tidak menyebutkan kesetaraan atau hak kelompok minoritas.

Data terbaru yang dilaporkan di media Israel menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga Druze dari Golan yang ingin mendapatkan kewarganegaraan Israel.

Namun jumlahnya masih sangat kecil: 75 pada tahun 2017 menjadi 239 tahun 2021.

Di luar Golan, sekitar 130.000 warga Druze Israel tinggal di Carmel dan Galilea di Israel utara.

Berbeda dengan komunitas minoritas lain di Israel, banyak di antara orang-orang Druze sangat patriotik.

Para kaum pria Druze yang berusia di atas 18 tahun telah ikut wajib militer di angkatan bersenjata Israel (Israel Defense Forces/IDF) sejak tahun 1957 dan sering kali menduduki jabatan tinggi.

Banyak juga dari mereka yang berkarier di kepolisian dan pasukan keamanan.

Usir Netanyahu

Sementara itu, kedatangan Perdana Menteri Israel Netanyahu ke Majdal Shams justru menundang kemarahan warga Druze

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved