Perceraian di Sulut
Angka Perceraian di Sulawesi Utara Tinggi, Ini Analisis dan Solusi Psikolog Preysi Siby
Psikolog Dr Preysi Siby M.Psi menilai tingginya perceraian di Sulawesi Utara dipengaruhi sejumlah faktor.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
"Kemudian masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan lainnya dapat mempengaruhi dinamika hubungan suami dan istri.
Jika tidak ditangani, ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko perceraian," kata dia.
Ia menilai perlu pendekatan holistik untuk mengatasi faktor faktor tersebut.
Semua unsur harus terlibat.
"Diri sendiri yaitu pola asuh yang tepat di dalam keluarga, Mama dan Papa dalam mendidik dan menjadi teladan bagi anak, Gereja/Masjid dan tempat ibadah yang berperan sebagai kebutuhan spiritual.
Pemerintah dgn program mengedukasi masyarat tentang bagaimana dampak suatu a daerah atau negara jika meningkat tingkat perceraian," katanya.
Sebut dia, tugas para psikolog juga penting. Untuk mengambil peran edukatif bagi masyarakat.
"Untuk para tenaga profesional Psikolog mengambil peran edukasi tentang komunikasi yang efektif, konseling pernikahan, serta dukungan sosial dan ekonomi bagi pasangan," kata dia. (Art)
Angka Perceraian di Sulut Tinggi, Pengamat Sosial Sebut Medsos Hanya jadi Kambing HitamĀ |
![]() |
---|
Cerita di Minahasa Sulut, Pernikahan Kandas Setelah 10 Tahun: Antara Harapan dan Pengkhianatan |
![]() |
---|
Penyebab Angka Perceraian Meningkat di Sulawesi Utara Menurut Psikolog Klinis Hanna Monareh |
![]() |
---|
Ada 164 Perkara Perceraian di Kotamobagu Sulut Sepanjang 2024, Ini Penyebab Paling Banyak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.