Perceraian di Sulut
Angka Perceraian di Sulawesi Utara Tinggi, Ini Analisis dan Solusi Psikolog Preysi Siby
Psikolog Dr Preysi Siby M.Psi menilai tingginya perceraian di Sulawesi Utara dipengaruhi sejumlah faktor.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Angka perceraian kian tinggi di Sulawesi Utara (Sulut).
Psikolog Dr. Preysi Siby M.Psi menilai tingginya perceraian dipengaruhi sejumlah faktor.
Pertama adalah perubahan nilai dan norma sosial.
"Nilai tradisional tentang pernikahan mengalami perbesaran dalam pemaknaan.
Di masyarakat yang lebih modern atau urban, perceraian dianggap lebih bisa diterima," kata dia Kamis (4/7/2024).
Faktor lainnya adalah tekanan ekonomi.
Ini dapat memicu stres yang berdampak signifikan pada pernikahan.
"Pada saat pasangan mengalami kesulitan keuangan, konflik dapat meningkat dan mengarah pada perceraian.
Kebutuhan lebih besar dari pada pendapatan. Masalah yang dianggap melelahkan sehingga keinginan untuk mencari solusi tidak ada," ujarnya.
Ia menuturkan, kesulitan komunikasi juga bisa jadi faktor pemicu perceraian.
Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik dan berkomunikasi secara efektif bisa menyebabkan hubungan yang tidak harmonis dan akhirnya perceraian.
"Seiring berjalannya waktu, harapan dan kebutuhan individu bisa berubah.
Jika pasangan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, hubungan dapat menjadi tidak memuaskan dan berakhir dengan perceraian," kata dia.
Hal selanjutnya, kata dia, adalah pengaruh medsos.
Eksposur terhadap media yang menggambarkan perceraian sebagai solusi yang mudah atau umum untuk masalah pernikahan bisa mempengaruhi persepsi individu tentang pernikahan dan perceraian.
"Kemudian masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan lainnya dapat mempengaruhi dinamika hubungan suami dan istri.
Jika tidak ditangani, ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko perceraian," kata dia.
Ia menilai perlu pendekatan holistik untuk mengatasi faktor faktor tersebut.
Semua unsur harus terlibat.
"Diri sendiri yaitu pola asuh yang tepat di dalam keluarga, Mama dan Papa dalam mendidik dan menjadi teladan bagi anak, Gereja/Masjid dan tempat ibadah yang berperan sebagai kebutuhan spiritual.
Pemerintah dgn program mengedukasi masyarat tentang bagaimana dampak suatu a daerah atau negara jika meningkat tingkat perceraian," katanya.
Sebut dia, tugas para psikolog juga penting. Untuk mengambil peran edukatif bagi masyarakat.
"Untuk para tenaga profesional Psikolog mengambil peran edukasi tentang komunikasi yang efektif, konseling pernikahan, serta dukungan sosial dan ekonomi bagi pasangan," kata dia. (Art)
Angka Perceraian di Sulut Tinggi, Pengamat Sosial Sebut Medsos Hanya jadi Kambing HitamĀ |
![]() |
---|
Cerita di Minahasa Sulut, Pernikahan Kandas Setelah 10 Tahun: Antara Harapan dan Pengkhianatan |
![]() |
---|
Penyebab Angka Perceraian Meningkat di Sulawesi Utara Menurut Psikolog Klinis Hanna Monareh |
![]() |
---|
Ada 164 Perkara Perceraian di Kotamobagu Sulut Sepanjang 2024, Ini Penyebab Paling Banyak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.