Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah

Kisah Alex Kawilarang, Perwira asal Sulut Perintis Kopassus yang Dikabarkan Pernah Tampar Soeharto

“Di bawah bendera merah putih ini yang telah kita bela dengan darah dan nyawa ini, kita punya hak yang sama dengan Soekarno." 

Editor: Rizali Posumah
HO/Dokumentasi Museum Joang 45
Foto saat Kolonel Alex Kawiralang dan Kolonel Soeharti diskusi soal operasi militer terhadap pasukan Andi Azis pada tahun 1950. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - “Di bawah bendera merah putih ini yang telah kita bela dengan darah dan nyawa ini, kita punya hak yang sama dengan Soekarno." 

Demikian yang pernah diucapkan Brigjen Inf. (Purn.) Alexander Evert Kawilarang.

Alexander Kawilarang merupakan salah satu tokoh penting militer Republik Indonesia

Bahkan bisa disebut, ia salah satu putra terbaik Indonesia yang turut merintis TNI

Ia terlibat dalam perang revolusi memepertahankan kemerdekaan Republik Indonesia

Ia juga merupakan perintis dari pasukan berkualifikasi khusus di tubuh TNI

Pernah beberapa kali turut dalam upaya memadamkan pemberontakan yang terjadi pasca kerdekaan Republik Indonesia

Salah satu kisah yang terkenal terkait dirinya adalah cerita bahwa ia pernah menampar Soeharto, bawahannya yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia

Bagaimana kisah lengkapnya? Simak ulasan berikut ini: 

Menampar Soeharto

Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto
Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto (HO/Kolase Tribun Manado)

Alexander Evert Kawilarang saat itu menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol Soeharto.

Saat Soeharto muda masih aktif di militer, dia dikabarkan pernah ditampar oleh seorang panglima militer yang sekaligus pendiri Kopassus

Kisah penamparan Soeharto oleh Alex Evert Kawilarang ini ada dalam buku 'Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975-1983' tulisan David Jenkins (1984)

Sekitar tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Alex Kawilarang melaporkan kepada Presiden  Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.

Namun Soekarno justru menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.

Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar saat itu juga dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved