Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilkada Talaud

3 Kriteria yang Harus Dimiliki Calon Bupati Talaud Menurut Ketua Sinode Germita Pdt Arnold Abas

Dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina, sehingga sering juga disebut sebagai daerah perbatasan atau daerah terluar

|
Penulis: Ferdi Guhuhuku | Editor: Alpen Martinus
HO
Ketua Sinode GERMITA Pdt Arnold Apolos Abas 

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa cita-cita awal  pembentukan kabupaten Talaud oleh para tokoh pendiri kabupaten Talaud adalah untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Talaud. 

Kondisi keterbelakangan kehidupan sosial ekonomi pada masa yang lalu, kesulitan serta penderitaan yang dialami oleh orang-orang Talaud pada waktu yang lampau, telah melahirkan sejumlah dorongan (motivasi) untuk berjuang dan bekerja keras agar bisa keluar dari kondisi penderitaan tersebut, sehingga dapat berdiri sejajar dengan rakyat  di tempat yang lain di bumi Nusantara ini. 

Syukur dengan berjalannya waktu, masyarakat Talaud sudah dapat menegakkan kepala karena antara lain putra-putri Talaud sudah banyak yang menyelesaikan pendidikan  pada tingkat sarjana (S1),  bahkan S2 sampai S3 (tingkat Doktoral).

Indonesia telah merdeka pada tahun 1945, namun rakyat Talaud belum merdeka, entah karena penindasan suku bangsa lain atau karena nasib yang harus dialaminya. Salah satu jalan keluar dari penderitaan itu adalah mendirikan kabupaten kepulauan Talaud. Karena hanya dengan jalan demikian, maka ada harapan untuk mencapai kesejahteraan bagi rakyat di daerah perbatasan.

Karena itu kriteria bagi seorang pemimpin daerah kabupaten Talaud adalah memahami   pergumulan yang dialami oleh masyarakat yang di daerah perbatasan. Terutama dapat memahami cita-cita atau semangat awal yang melandasi gerakan perjuangan pendirian kabupaten Talaud.

2. Memahami Nilai-nilai Luhur Budaya Talaud 

Tantangan dan pergumulan masyarakat Talaud dewasa ini tentu sangat kompleks dan mendasar. Tidak hanya berkaitan dengan bidang pembangunan infrastruktur seperti  jalan, jembatan, pelabuhan,  pendidikan, /SDM, kesehatan, pariwisata, jaringan telekomunikasi. Namun juga berkaitan dengan pembangunan sosial budaya, berbagai kearifan lokal, spiritualitas serta penegasan identitas kultural masyarakat Talaud yang tinggal di bumi Porodisa. 

Kabupaten kepulauan Talaud seperti halnya masyarakat di daerah lain,  juga memiliki nilai-nilai budaya yang luhur, yang  selalu  dihargai dan dihormati sejak dulu secara turun temurun, baik oleh para tetua maupun masyarakat Talaud pada umumnya. 

Namun identitas kultural tersebut, mulai  tergilas oleh budaya yang datang dari luar, dibawa oleh agen-agen modernisasi, maupun yang diperkenalkan oleh pihak-pihak tertentu, dimana  nilai-nilai baru tersebut, seperti nampak dalam gaya hidup (life style) individualisme, materialisme, konsumerisme, dan lain-lain, sering  bertentangan dengan nilai-nilai budaya luhur masyarakat Talaud, yang  sangat menghargai kebersamaan (solidaritas), kerja sama, saling menghormati satu dengan yang lain, terutama yang tua,   menghargai norma  kesusilaan, utamanya pergaulan pria dan wanita.

 Sehingga jika nilai-nilai luhur tersebut, tidak  dipelihara dan dilestarikan, maka rakyat di bumi Porodisa suatu saat akan kehilangan identitas dan jatidirinya sebagai "orang Talaud".

3. Memiliki Etika, Moral dan Integritas yang Tinggi 

Seorang pemimpin tidak cukup hanya  memahami dan menguasai persoalan dan  tantangan serta pergumulan pembangunan masyarakat yang hadapi oleh masyarakat di bumi Porodisa. Tetapi juga harus  memiliki etika, moralitas dan integritas yang tinggi. 

Kualitas kepribadian serta karakter yang terpuji akan sangat menentukan sepak terjang seorang pemimpin yang akan mendapat kepercayaan masyarakatnya yang dipimpinnya. 

Mereka (rakyat) akan menaruh harapan besar kepadanya untuk dapat membawa kepada kemajuan dan kesejahteraan. Tanpa etika dan moralitas serta integritas, seorang pemimpin akan bertindak sembrono dan sesuka hatinya, akan mengejar kekayaan (memperkaya diri sendiri dan keluarga), serta hanta mengejar kekuasaan/ambisi pribadi dan kelompoknya sampai  mengorbankan hak-hak orang lain,  sehingga tidak mampu lagi melihat penderitaan rakyat dan orang  yang dipimpinnya.

Bahkan cenderung melakukan eksploitasi dan intimidasi kepada bawahan-nya dan bukan tidak mungkin akan memperbudak rakyat yang dipimpinnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved