Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Membangun Budaya Belajar

Masyarakat pembelajar di suatu negara akan muncul dengan ditandai adanya kesadaran dan kemauan setiap individu untuk belajar.

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi proses pembelajaran dinamis yang merupakan proses 'belajar sambil melakukan'. 

Oleh:
Dr Dominica Diniafiat ST MM
Consultant Management & People Development
Komunitas Aspirasi Jalinan Diversity (AJD) Learning
Pegiat Budaya

BELAJAR adalah sesuatu yang sangat penting bagi setiap individu. Bukan hanya demi pengembangan dirinya, tetapi justru bertujuan untuk bisa membangun karakter berpikir, bertindak dan berinteraksi dengan dunia luar; si individu perlu untuk belajar. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa belajar adalah ibarat perubahan sebuah sistem yang sangat penting terutama di saat bekerja, dengan saratnya kompleksitas realitas. Sifat dinamis dari sistem adaptif yang kompleks membutuhkan kemampuan untuk terus merasakan dan belajar dari sistem, termasuk bagaimana menyesuaikan. (Building a Culture of Learning at Scale, Mckenzie 2021).
Maka itu, kita sepakat bahwa belajar adalah aktivitas memperoleh pengetahuan. Untuk mempejelas hal tersebut, penulis perlu menguraikan bagaimana yang dimaksud dengan aktivitas memperoleh pengetahuan.

Pertama, pembelajaran dengan memperoleh “pengetahuan yang tidak diartikulasikan dan terikat pada indera, keterampilan gerak, pengalaman fisik, intuisi, atau aturan praktis implisit”. Kedua, pembelajaran eksplisit – yang berarti perolehan pengetahuan yang diformalkan, terlihat dan diartikulasikan dengan jelas, seperti dari informasi tertulis. Ketiga, pembelajaran dinamis, yang merupakan proses “belajar sambil melakukan” atau pembelajaran yang muncul dari interaksi aktif antara individu dengan lingkungan internal dan eksternal organisasi. (Ibid.)

Sementara itu, mengingat pentingnya hubungan antara belajar dan pengetahuan, maka kita perlu merinci apa itu pengetahuan. Pengetahuan menunjuk kepada pengertian berikut ini: Dalam arti luas, pengetahuan dapat berarti pemahaman apa pun - apakah ini diungkapkan dalam bahasa sebagai pengetahuan yang diformalkan, terlihat, diartikulasikan dengan jelas atau bentuk informal seperti citra tanpa bahasa. Pengetahuan dapat mencakup persepsi, pemahaman implisit, motivasi tak sadar dan kebiasaan perilaku. Ini juga termasuk pengetahuan diam-diam – pengetahuan yang kita ketahui tetapi tidak dapat selalu atau dengan mudah dikomunikasikan – seperti praktik dan tradisi yang kita warisi, nilai-nilai yang tersirat dan penilaian yang mungkin tidak kita sadari yang kita buat. (Ibid.)

Maka dengan demikian budaya belajar seharusnya menunjuk kepada budaya pembelajaran berkinerja tinggi yang adalah budaya di mana setiap individu diharapkan bekerja dengan standar tinggi. Dalam budaya seperti itu, semua mendukung upaya satu sama lain dan sumber daya pun struktur yang ada diselaraskan dengan perilaku yang diharapkan. Semua tindakan bahkan diharuskan menggunakan pendekatan yang berorientasi kepada tindakan untuk menumbuhkan budaya yang kondusif bagi pencapaian tertinggi semua individu di dalamnya.

Dengan kata lain, dalam sebuah kelompok atau komunitas yang sedang membangun budaya belajar, diperlukan sebuah pemahaman sebagaimana kajian Edvantia Focused Partner and Education. Berikut ini tiga bidang untuk tindakan dan perubahan: Bidang yang tak berwujud dari (1) visi/misi, (2) keyakinan inti, dan (3) arena konkret dari struktur strategis. Teori ini berdasar pada pendapat bahwa, sementara perilaku individu pada awalnya dipandu oleh keyakinan pribadi intrinsik, perilaku mereka dapat dimodifikasi oleh struktur strategis yang dirancang untuk memperkuat keyakinan inti organisasi sebagaimana dinyatakan dalam visi dan misi. Seiring waktu, perubahan perilaku dapat menyebabkan perubahan keyakinan. (2005)

Dari uraian di atas maka secara sederhana budaya belajar dipahami sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang secara sadar baik itu dalam tingkah laku, keterampilan, sikap, pengetahuan dan kebiasaan lainnya untuk memperoleh suatu tujuan tertentu yang dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain. Adanya individu yang mau belajar akan membentuk learning society atau masyarakat pembelajar. Masyarakat pembelajar di suatu negara akan muncul dengan ditandai adanya kesadaran dan kemauan setiap individu untuk belajar. (Bdk. https://eprints.umm.ac.id/47912/3/BAB persen20II.pdf)

Individu yang terlibat dalam sebuah kegiatan belajar tentu akan dengan mudah memberikan dan sekaligus meminta informasi yang diperlukan bersama teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika semua pihak mau saling berbagi dan mendengarkan. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila terdapat komunikasi dua arah. Hal itu akan terjadi dengan baik jika terdapat situasi sosial budaya yang mendukung, aspek sosial yang berarti hubungan sosial dengan sesama, lingkungan yang terekayasa dengan baik dan juga pengalaman dalam berkomunikasi. (*)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved