Hari Raya Waisak 2023
5 Biksu Bertato Asal Thailand di Manado Sulawesi Utara
Catatan ini dibuat oleh wartawan Tribun Manado yang bertemu biksu dari Tahiland beberapa waktu silam.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Isvara Savitri
"Orang Manado sangat ramah, baik-baik," kata dia.
Ia menceritakan pengalamannya saat ikut pindapatta di Manado pada pagi di Hari Raya Waisak.
Banyak yang memberinya persembahan dan ia mengucap terima kasih dengan berbahasa Manado.
"Saya sudah lima kali Waisak di sini, tentu tahu sedikit bahasa Manado," kata dia.
Dirinya mengaku selalu berupaya belajar banyak bahasa, khususnya di Asia Tenggara.
Menurut dia, itu mudah.
"Karena bahasa di Asia Tenggara ini berasal dari satu akar bahasa, yakni bahasa Sansekerta," katanya.
Chanpatan mengaku suka makanan Manado, meski agak pedas.
"Wuih, tinutuan enak tapi pedas," katanya.
Waisak tahun ini istimewa.
Baca juga: Daftar Incumbent Anggota DPRD Sulawesi Utara yang Kembali Nyaleg: Pindah Partai hingga Turun Pangkat
Baca juga: Kecelakaan Maut, Perempuan Paruh Baya Tewas, Korban Menyeberang Lalu Ditabrak Mobil Ambulans
Ada 32 biksu dari berbagai negara yang melakukan ritual jalan kaki dari Thailand ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
Puncak ritual ada di Borobudur, tapi tujuan mereka temui di perjalanan.
Ada warga Indonesia yang menyambut, memberi minum, ormas, yang menjaga, dan tokoh Islam yang memberi tumpangan.
Ritual bisa jadi belenggu, tapi kasih lah yang membebaskan diri dari belenggu.(*)
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/di-Vihara-Dhammadipa-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)