Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mata Lokal Memilih

Elektabilitas PDIP Gerindra Teratas, Ferry Liando: Efek Jokowi, Ganjar Pranowo dan Sikap Nasionalis

PDIP dan Partai Gerindra semakin kokoh menjadi dua partai politik dengan elektabilitas tertinggi.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
IST
Dosen Kepemiluan FISIP Unsrat, Ferry Liando. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hasil survei Litbang Kompas pada 29 April-10 Mei 2023 menunjukkan, PDIP dan Partai Gerindra semakin kokoh menjadi dua partai politik dengan elektabilitas tertinggi.

Dikutip dari Kompas.com, raihan suara PDIP dan Gerindra makin terpaut jauh dengan raihan partai di peringkat ketiga.

Terkait hasil survei ini, Dosen Kepemiluan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsrat, Ferry Liando menjelaskan, elektabilitas PDIP dan Gerindra naik karena dua kemungkinan.

Pertama, efek Jokowi. Terlepas dari banyak keterbatasan, Jokowi adalah salah saru presiden terbaik yant pernah dimiliki Indonesia.

"Banyak lembaga survei menyatakan sangat puas dengan kinerja Presiden Jokowi," kata Liando kepada Tribunmanado.co.id, Selasa (22/05/2023).

Katanya lagi, tentunya PDIP sangat diuntungkan karena Jokowi diusung PDIP menjadi presiden dan hingga kini Jokowi masih tercatat sebagai kader PDIP.

Kedua, Gerindra juga sangat diuntungkan karena Prabowo Subianto yg merupakan Ketum Gerindra beberapa kali di-endorse Jokowi. Baik ke media ataupun ke publik.

Belum lagi, dua anak Jokowi, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep terang-terangan mendukung Prabowo.

Hal itu tidak mungkin tanpa persetujuan Jokowi.

Selanjutnya, praktis baru PDIP yang resmi punya calon presiden yaitu Ganjar Pranowo.

Hal ini tak lepas dari fakta, menurut UU Pemilu, hanya PDIP yang memenuhi syarat mengajukan calon presiden tanpa harus berkoalisi dengan parpol lain.

PDIP telah memenuhi syarat ambang batas pencalonan Pilpres karens punya kursi DPR RI lebih dari 20 persen dari total keseluruhan kursi Parlemen

Selanjutnya, komitmen Gerindra utk tetap tegak menjadi partai nasionalis tentu mendapat respon publik.

"Tentu Gerindra sudah belajar dari pengalaman Pemilu 2019. Saat urung Gerindra terkesan membuka ruang bagi kelompok radikal dalam pencalonannya.

Tindakan itu menyebabkan Prabowo dan Gerindra banyak ditinggal pemilih.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved