Tajuk Tamu Tribun Manado
Memaknai Sakit sebagai Sebuah Pengalaman Nyata
Sehat dan sakit adalah bagian dari pengalaman eksistensial manusia. Sakit juga adalah sesuatu yang harus diterima.
Oleh:
Ambrosius M Loho
Dosen Filsafat Unika De La Salle Manado
Penulis
FAKTA yang memicu penulis untuk merefleksikan tentang pengalaman sakit ini adalah sebuah situasi yang teralami. Kita bisa memahami bahwa manusia akan mengalami dua kondisi, yakni kondisi sehat dan kondisi sakit.
Seperti kita ketahui bahwa kedua kondisi ini, berbanding terbalik. Kondisi sehat, adalah kondisi yang sangat diidam-idamkan oleh setiap manusia, karena dengan kondisi sehat, setiap manusia pasti akan merasa baik baik saja. Namun demikian, walaupun setiap manusia mengharapkan untuk selalu sehat, mereka tidak bisa menolak kondisi sakit. Dia tidak bisa menolak karena keadaaan itu, tanpa diminta pun, suatu waktu akan dialaminya. Sakit untuk ukuran tertentu adalah keadaan manusia/subjek yang tidak baik, karena dia berada dalam kondisi tidak sehat.
Dalam laman rumahfilsafat.com dipaparkan bahwa rasa sakit yang muncul pada manusia subjek kadang diperparah oleh situasi perasaan di dalam hati si manusia atau subjek itu. Dalam kondisi sedemikian parah itu, manusia sering merasa bahwa hidup ini tidak adil. Bukan hanya itu, kondisi sakit juga bisa menyerang mental seseorang. Ini muncul, biasanya, karena harapan yang berbeda dengan kenyataan. Kita menginginkan hidup yang damai, namun penderitaan dan masalah yang justru datang. Jika hal ini terjadi bertubi-tubi, maka orang bisa merasakan sakit yang amat besar. (bdk. https://rumahfilsafat.com/2017/05/29/rasa-sakit-dan-kelembutan/).
Namun demikian, kita sebetulnya tidak perlu ragu dan berpikir bahwa hal tersebut yakni kondisi sakit itu tidak bisa diatasi. Mengapa? Karena pada saat yang sama, kita harus menyadari bahwa sakit dan bahkan penderitaan bukanlah sesuatu yang mutlak dan tak dapat diatasi. Orang hanya perlu melihat hakikat dari rasa sakit itu sebagaimana adanya, tanpa memberinya penilaian apa saja. (https://rumahfilsafat.com/2016/10/26/di-atas-rasa-sakit/).
Dari paparan laman rumahfilsafat.com ini menegaskan bahwa kendati sakit itu kemungkinan terjadi, yang terpenting adalah kesadaran bahwa sakit selalu merupakan bagian dari hidup. Karena jika orang terlampau berharap terbebas dari rasa sakit atau memosisikan diri pada pemahaman bahwa saya tidak akan pernah sakit dan sebagainya, berarti justru mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, karena yang akan terjadi adalah dia bisa saja semakin menderita ketika sakit tiba.
Hal ini berarti bahwa jika kesadaran kita diletakkan pada posisi siap siaga untuk mengalami keadaan dan kondisi apapun, kita tidak kemudian jumawa untuk menolak sakit itu ketika datang menghampiri kita, atau kita alami. Kesadaran ini penting untuk dipahami karena kondisi manusia tidak selamanya akan sehat terus, kondisi manusia tidak akan pernah baik terus.
Sehat dan sakit adalah bagian dari pengalaman eksistensial manusia. Sakit juga adalah sesuatu yang harus diterima. Bahkan Nietzsche menyikapi sakit itu secara bijak dengan cara ia tidak menolak sakit dengan sikap lantang tak gentar atau pun menerima dengan sikap pasrah tetapi ia menerima dan mengolah rasa sakit itu sehingga pengalaman sakit yang ia derita itu diubah menjadi suatu konsolasi bagi seluruh hidupnya. (https://www.kompasiana.com).
Jadi, sakit merupakan proses di mana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada, mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya. Sedangkam sehat merupakan keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus, sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan yang ada pada lingkungan internal dan eksternalnya, untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat.
Akhirnya belajar dari konsep Sartre tentang kesadaran, kita perlu secara sungguh-sungguh memiliki kesadaran bahwa: “Manusia yang berkesadaran (to be consciusness) bagi Sartre merupakan kesadaran akan sesuatu, namun dia dapat memisahkan diri dari yang disadarinya itu, walaupun ia tak bermakna tanpa yang disadari. Dengan sadar akan sesuatu, berarti seseorang dapat memisahkan diri dari sesuatu itu. Seseorang dapat berjaga-jaga terhadap sesuatu yang disadarinya. Keadaan inilah yang memberikan ruang untuk eksistensi manusia dalam memilih secara bebas apa yang mau ‘disadarinya’.” (Tambunan, Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 2 Tahun 2016).
Dengan demikian, setiap individu perlu memahami bahwa pengalaman sakit perlu dilihat dalam kesatuan dengan eksistensi manusia sebagai individu. Bahwa perlu disadari bahwa individu itu adalah individu yang sadar, dia juga harus menyadari bahwa ada sesuatu yang terpisah dari dirinya, dan bisa dia alami, kemudian karena itu, dia harus memiliki kesadaran bahwa dia harus berjaga-jaga terhadap sesuatu yang disadarinya itu.
RS Bhayangkara, 10 Mei 2023. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Ambrosius-Loho-Dosen-Unika-De-La-Salle-Manado.jpg)