Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Wartawan

Kayu Salib dan Dosa Jurnalistik

Hanya ada orang - orang berpakaian hitam berbaris menuju ke gereja, seolah itu rumah yang segera menggelar pemakaman. 

|
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
HO
Ilustras - Jumat Agung tahun 2012. Kucari prosesi jalan salib dan menemukannya di sebuah Gereja GMIM di Wanea. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari derita sunyi. Hari sunyinya derita. 

Jumat Agung tahun 2012. 

Langit cerah namun seisi kota Manado, Sulawesi Utara, murung. Jalanan sepi. 

Hanya ada orang - orang berpakaian hitam berbaris menuju ke gereja, seolah itu rumah yang segera menggelar pemakaman. 

Hari itu, warga Manado sejenak melupakan dansa, pesta dan hura hura.

Mereka berpakaian duka sambil bermuram durja. 

Melihat kayu salib dan meratap. 

Aku sendiri tenggelam dalam ratapan (aku adalah Kristen) tapi tak bisa lari dari rutinitasku ; mencari berita. 

Ada joke di kalangan kami. Kiamat pun akan kami liput. Jika bunyi sangkakala di subuh hari tanda

Yesus datang, kami akan buru - buru mengambil kamera untuk mengabadikannya.

Mungkin dapat menjadi karya jurnalistik pamungkas sebelum dunia dan segenap kepedihannya berakhir.

Apalagi cuma Jumat Agung. Kucari prosesi jalan salib dan menemukannya di sebuah Gereja GMIM di Wanea. 

Prosesi jalan salib ini benar - benar menarik dari sudut jurnalistik.

Sutradaranya pintar menyusun plot cerita kematian Yesus yang dirangkum dari empat Injil di Alkitab. 

Para pemainnya sangat menjiwai peran masing - masing. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved