Opini
Awal Puasa 1444 H Saudi dan Indonesia
Jika hilal terlihat setelah matahari terbenam maka sudah masuk awal bulan. Tapi jika hilal tidak terlihat, maka bulan berjalan genapkan 30 hari.
Oleh: Andi Muh. Akhyar, M.Sc.
Direktur Sekolah Astronomi Islam Indonesia dan Dosen Fisika Universitas Negeri Gorontalo atau UNG
PEMERINTAH Indonesia dan Saudi Arabiyah memiliki pandangan yang sama terkait dengan penentuan awal bulan yang terkait dengan Ibadah kaum muslimin: Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Keduanya mendasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa) dengan melihat hilal.
Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari.” Hadits ini berisi informasi terkait penetuan awal Ramadan dan Syawal, baik Metode maupun waktunya.
Kedua negara meyakini bahwa metode yang dimaksud dalam hadits ini adalah metode rukyat: melihat dengan mata, baik dengan mata telanjang atau dengan bantuan alat optik seperti teleskop.
Mereka juga menyepakati bahwa waktu rukyatul hilal dilakukan pada tanggal 29 bulan berjalan.
Artinya, untuk penentuan awal Ramadan misalnya, maka waktu rukyatul hilal dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban.
Atau untuk penentuan awal Syawal, waktu rukyatul hilal dilakukan pada tanggal 29 Ramadan.
Jika hilal terlihat setelah matahari terbenam maka sudah masuk awal bulan. Tapi jika hilal tidak terlihat, maka bulan berjalan genapkan 30 hari.
Lebih lanjut, keduanya menyepakati matlak rukyat lokal, wilayatul hukmi yaitu rukyat dilakukan di negeri masing-masing dan laporannya hanya berlaku di negeri tersebut.
Baca juga: 15 Ucapan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 2023, Bahasa Inggris dan Artinya untuk Medsos
Dengan demikian, Pemerintah Saudi hanya akan mengakui hilal yang terlihat di Saudi dan pemerintah Indonesia hanya akan mengakui hilal yang telihat di Indonesia.
Meskipun hilal terlihat di Saudi, tapi tidak terlihat di Indonesia, maka awal bulan berlaku di Saudi, namun tidak bagi Indonesia. Demikian pula sebaliknya.
Selain sama-sama menerapkan metode rukyat, mereka juga sepakat menerapkan kelender Hijriyah berbasis hisab.
Kalender ini sama-sama digunakan untuk keperluan administratif sehari-hari warganya.
Di Saudi, kaender Hijriyah tentu menjadi pilihan utama dalam penanggalan administrasitf seperti persuratan, hari libur nasional, dll.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/andi-muh-akhyar-msc.jpg)